Home

Media Informasi Seputar Arsitektur

Wednesday, April 20, 2016

GREEN DESIGN


 

TREND GREEN DESIGN
Earth Advantage mengidentifikasi 10 tren gedung berwawasan lingkungan terbaik tahun ini.  Tren ini hasil masukan dari berbagai pihak seperti pemerintah, pengembang, arsitek, broker properti, termasuk para pemilik rumah. Tren ini mencakup tren penggunaan perabot pintar (smart appliances), analisis masa pakai bahan bangunan, serta pemanfaatan energi berbasis komunitas yang makin terjangkau oleh masyarakat.
  1. Tren “hijau”  kini semakin terjangkau. Masih banyak yang mengaitkan tren ramah lingkungan dan bangunan hemat energi dengan biayanya yang mahal. Kini tidak lagi.  Teknologi ramah lingkungan dan bahan baku berkualitas tinggi semakin murah dan mudah didapat. Audit energi yang murah dan gratis banyak tersedia. Pemilik rumah semakin sadar atas manfaat modifikasi hemat energi yang simpel dan murah. Program Solar City di AS memungkinkan pemilik rumah memasang panel surya tanpa uang muka. Program lain seperti Habitat for Humanity menyediakan rumah ramah lingkungan sesuai dengan standar sertifikasi LEED dan Energy Star dengan harga terjangkau (US$100.000).
  2. Tren kompetisi penghematan energi. Anda bisa menciptakan kompetisi hemat energi di berbagai jejaring sosial seperti Facebook, Twitter atau jejaring media lain. Ajak teman-teman Anda bergabung dalam kompetisi ini. Earth Aid misalnya, menggelar program yang memungkinkan Anda melacak penggunaan energi di rumah dengan sponsor toko-toko ritel lokal. Anda juga bisa berbagi dan menemukan info cara penghematan energi paling efektif di Earth Aid. Didukung program dari Kementrian Energi AS seperti program Home Energy Score dan program Energy Performance Score di Oregon dan Washington, penduduk AS kini bisa saling membandingkan konsumsi energi dan menemukan cara penghematan energi terbaik bagi rumah mereka.
  3. Tren peraturan energi berbasis kinerja (performance-based energy codes). Penggunaan energi bisa tak terkontrol tanpa adanya peraturan pemerintah. Untuk itu, dibutuhkan regulasi yang mengatur standar pemakaian energi untuk peralatan rumah tangga seperti pemanas maupun pendingin ruangan. Hal ini penting bagi para pemilik bangunan yang ingin memodifikasi bangunan mereka menjadi bangunan ramah lingkungan. Pemilik bangunan bisa memilih strategi hijau yang paling efektif bagi bangunan dan penghuninya namun mereka juga harus memenuhi target minimal penghematan energi dan melaporkan pemakaian energi mereka selama satu tahun ke lembaga terkait. Kota Seattle dan New Building Institute bekerja sama dengan Preservation Green Lab dari National Trusts telah menciptakan dan memraktekkan peraturan hijau ini bagi gedung lama maupun baru.
  4. Tren energi terbarukan berbasis komunitas (Community Renewable Energy). Kini, banyak komunitas yang telah bekerja sama mendapatkan energi surya dengan harga terjangkau. Membeli panel surya secara berkelompok bisa mengurangi biaya instalasi dan produksi hingga 15-25%.
  5. Tren perabot pintar (Smart Appliances). Dengan memanfaatkan teknologi pengukuran pintar (smart meters), pemilik gedung bisa mendapatkan tips cara menghemat energi pada jam-jam sibuk. Pemilik gedung juga bisa mengetahui kebutuhan energi setiap perabot yang mereka pakai. Pihak pabrikan banyak yang telah menerapkan teknologi pengatur waktu dan pengatur konsumsi energi canggih di produk mereka sehingga pemakaian energi bisa semakin dikontrol.
  6. Tren berbagi ruang. Saat krisis ekonomi, banyak penyewa gedung yang memodifikasi bangunan mereka sehingga bisa dihuni lebih banyak orang. Bangunan kecil tambahan yang bisa dimanfaatkan sebagai kantor, studio, atau disewakan itu memenuhi syarat ideal sebuah bangunan yang hemat energi dan berwawasan lingkungan. Bangunan tambahan ini bisa memaksimalkan penggunaan ruang di perkotaan dan memberikan nilai tambah bagi pemilik bangunan. Kota-kota seperti Portland, Oregon, dan Santa Cruz, California, membebaskan biaya administrasi bagi bangunan-bangunan seperti ini.
  7. Tren penyekatan bangunan secara optimal. Teknologi saat ini memungkinkan bangunan disekat sedemikian rupa sehingga tidak ada energi yang keluar. Desain ini sangat cocok bagi negara yang memiliki empat musim. Saat musim dingin, bangunan yang memiliki sekat sempurna dipanaskan oleh aktifitas dalam ruang tanpa harus menggunakan pemanas elektrik. Bangunan yang memiliki sekat dalam sistem pemanas atau pendingin yang baik bisa menghemat energi dan biaya pemanasan atau pendinginan gedung. Konsep ini sesuai dengan sertifikasi Energy Star. Bangunan juga bisa menggunakan sistem pemanas atau pendingin yang berasal dari panas bumi (geothermal) yang lebih ramah lingkungan.
  8. Tren daur ulang air limbah. Air semakin sulit didapat. Di beberapa wilayah seperti di bagian barat laut AS dan bagian selatan California, sistem daur ulang air semakin populer. Dengan mendaur ulang air kita bisa menghemat penggunaannya dan bisa mengurangi limbah. Walaupun beberapa kota masih enggan menggunakan air hasil daur ulang (grey water), namun sejumlah negara telah memanfaatkannya bahkan untuk irigasi. Singapura adalah negara di Asia yang mendaur ulang air limbahnya untuk digunakan pada kebutuhan sehari-hari.
  9. Tren sertifikasi gedung-gedung kecil.  Sebanyak 95% gedung-gedung komersial di AS memiliki luas di bawah 4.645 m2. Namun bangunan yang memiliki sertifikasi LEED (Leadership in Energy & Environmental Design) biasanya memiliki ukuran yang jauh lebih besar. Hal ini karena biaya sampingan untuk sertifikasi seperti biaya komisi, rancang bangun energi (energy modeling), pendaftaran proyek , dan biaya administrasi lain masih sangat besar sehingga biaya sertifikasi ini menjadi sangat mahal bagi pemilik dan pengembang gedung kecil. Program sertifikasi yang didesain khusus bagi gedung-gedung kecil kini semakin marak seperti Earthcraft Light Commercial dan Earth Advantage Commercial.
  10. Tren analisis masa pakai (Lifecycle Analysis/LCA). Memahami masa pakai bahan bangunan dan efeknya dari pabrikan hingga ke pembuangan sangat penting bagi pengembang berwawasan lingkungan. Dengan memahami prinsip masa pakai tersebut, industri konstruksi bisa memelajari efek bahan-bahan bangunan itu dimulai dari produksi hingga ke pembuangannya.
Analis bisa meneliti dampak dari bahan-bahan bangunan itu sepanjang masa pakainya dengan menggunakan berbagai indikator lingkungan seperti  efeknya terhadap polusi air dan udara, energi yang dibutuhkan untuk memroduksi bahan bangunan, dan efek dari limbah bahan bangunan itu terhadap lingkungan dan pemanasan global. Hasil dari analisis ini membantu arsitek merancang bangunan yang benar-benar “hijau” atau berwawasan lingkungan.
RAMAH LINGKUNGAN = HEMAT
Top of Form

Konsep green building atau bangunan ramah lingkungan didorong menjadi tren dunia bagi pengembangan properti saat ini. Bangunan ramah lingkungan ini punya kontribusi menahan laju pemanasan global dengan membenahi iklim mikro.
Fakta akibat pemanasan global mendorong lahirnya berbagai inovasi produk industri terus berkembang dalam dunia arsitektur dan bahan bangunan. Konsep pembangunan arsitektur hijau menekankan peningkatan efisiensi dalam penggunaan air, energi, dan material bangunan, mulai dari desain building interior, pembangunan, hingga pemeliharaan bangunan itu ke depan.

Desain rancang building memerhatikan banyak bukaan untuk memaksimalkan sirkulasi udara dan cahaya alami. Sedikit mungkin menggunakan penerangan lampu dan pengondisi udara pada siang hari. Desain building hemat energi, membatasi lahan terbangun, layout sederhana, ruang mengalir, kualitas bangunan bermutu, efisiensi bahan, dan material ramah lingkungan. Atap-atap bangunan dikembangkan menjadi taman atap (roof garden, green roof) yang memiliki nilai ekologis tinggi (suhu udara turun, pencemaran berkurang, ruang hijau bertambah).
Penggunaan material bahan bangunan yang tepat berperan besar dalam menghasilkan bangunan berkualitas yang ramah lingkungan. Beberapa jenis bahan bangunan ada yang memiliki tingkat kualitas yang memengaruhi harga. Penetapan anggaran biaya sebaiknya sesuai dengan anggaran biaya yang tersedia dan dilakukan sejak awal perencanaan sebelum konstruksi untuk mengatur pengeluaran sehingga baik building interior maupun eksteriornya tetap berkualitas.
Konsep membangun rumah berwawasan lingkungan tidak selalu identik dengan rumah mewah. Kenaikan harga bahan bakar minyak memukul telak industri properti di Tanah Air. Harga bahan bangunan meroket, sementara daya beli masyarakat semakin menurun. Di tengah keterpurukan ekonomi seperti ini, kita dituntut hidup hemat, bertindak bijak, dan kreatif dalam segala lini kehidupan.
Kenaikan harga bahan bangunan membuat masyarakat yang berniat atau telanjur tengah merenovasi dan membangun rumah dipaksa mengevaluasi kembali rencana atau kegiatan pembangunan rumah yang sedang berlangsung.  Prioritas pekerjaan disusun ulang, utamakan kegiatan yang paling mendesak dilakukan. Penghematan pengeluaran dengan membelanjakan bahan bangunan yang paling diperlukan untuk pembangunan sekarang.
Lakukanlah survei terlebih dahulu untuk mencari alternatif bahan bangunan yang bersifat praktis, mampu memberi solusi tepat kebutuhan bangunan baik untuk building interior design maupun bagian eksteriornya, dan ramah lingkungan. Hal ini bisa dilihat mulai dari lama waktu proses pengerjaan, tingkat kepraktisan, dan hasil yang diperoleh.
Building design menggunakan bahan bangunan yang tepat, efisien, dan ramah lingkungan. Beberapa produsen telah membuat produk dengan inovasi baru yang meminimalkan terjadinya kontaminasi lingkungan, mengurangi pemakaian sumber daya alam tak terbarukan dengan optimalisasi bahan baku alternatif, dan menghemat penggunaan energi secara keseluruhan.
Bahan baku building interior design maupun eksteriornya yang ramah lingkungan berperan penting dalam menjaga kelestarian lingkungan bumi. Beragam inovasi teknologi proses produksi terus dikembangkan agar industri bahan baku tetap mampu bersahabat dengan alam. Industri bahan bangunan sangat berperan penting untuk menghasilkan bahan bangunan yang berkualitas sekaligus ramah lingkungan. Konstruksi building design yang berkelanjutan dilakukan dengan penggunaan bahan-bahan alternatif dan bahan bakar alternatif yang dapat mengurangi emisi CO2 sehingga lebih rendah daripada kadar normal bahan baku yang diproduksi sebelumnya.





Description: D:\archie\PENGETAHUAN LINGKUNGAN\bahan bangunan alami\Bangunan.Hijau.Hemat.dan.Ramah.Lingkungan_files\adServer.gif

Semen, keramik, batu bata, aluminium, kaca, dan baja sebagai bahan baku utama dalam pembuatan sebuah bangunan berperan penting dalam mewujudkan konsep bangunan ramah lingkungan.
Untuk kerangka bangunan utama dan atap, kini material kayu sudah mulai digantikan material baja ringan. Isu penebangan liar (illegal logging) akibat pembabatan kayu hutan yang tak terkendali menempatkan bangunan berbahan kayu mulai berkurang sebagai wujud kepedulian dan keprihatinan terhadap penebangan kayu dan kelestarian bumi. Peran kayu pun perlahan mulai digantikan oleh baja ringan dan aluminium.
Baja ringan dapat dipilih berdasarkan beberapa tingkatan kualitas tergantung dari bahan bakunya. Rangka atap dan bangunan dari baja memiliki keunggulan lebih kuat, antikarat, antikeropos, antirayap, lentur, mudah dipasang, dan lebih ringan sehingga tidak membebani konstruksi dan fondasi, serta dapat dipasang dengan perhitungan desain arsitektur dan kalkulasi teknik sipil.
Kusen jendela dan pintu juga sudah mulai menggunakan bahan aluminium sebagai generasi bahan bangunan masa datang. Aluminium memiliki keunggulan dapat didaur ulang (digunakan ulang), bebas racun dan zat pemicu kanker, bebas perawatan dan praktis (sesuai gaya hidup modern), dengan desain insulasi khusus mengurangi transmisi panas dan bising (hemat energi, hemat biaya), lebih kuat, tahan lama, antikarat, tidak perlu diganti sama sekali hanya karet pengganjal saja, tersedia beragam warna, bentuk, dan ukuran dengan tekstur variasi (klasik, kayu).
Bahan dinding dipilih yang mampu menyerap panas matahari dengan baik. Batu bata alami atau fabrikasi batu bata ringan (campuran pasir, kapur, semen, dan bahan lain) memiliki karakteristik tahan api, kuat terhadap tekanan tinggi, daya serap air rendah, kedap suara, dan menyerap panas matahari secara signifikan.
Penggunaan keramik pada dinding menggeser wallpaper merupakan salah satu bentuk inovatif desain. Dinding keramik memberikan kemudahan dalam perawatan, pembersihan dinding (tidak perlu dicat ulang, cukup dilap), motif beragam dengan warna pilihan eksklusif dan elegan, serta menyuguhkan suasana ruang yang bervariasi.

Fungsi setiap ruang dalam rumah berbeda-beda sehingga membuat desain dan bahan lantai menjadi beragam, seperti marmer, granit, keramik, teraso, dan parquet. Merangkai lantai tidak selalu membutuhkan bahan yang mahal untuk tampil artistik. 

Lantai teraso (tegel) berwarna abu-abu gelap dan kuning yang terkesan sederhana dan antik dapat diekspos baik asal dikerjakan secara rapi. Kombinasi plesteran pada dinding dan lantai di beberapa tempat akan terasa unik. Teknik plesteran juga masih memberi banyak pilihan tampilan.
Konsep ramah lingkungan dewasa ini juga telah merambah ke dunia sanitasi. Septic tank dengan penyaring biologis (biological filter septic tank) berbahan fiberglass dirancang dengan teknologi khusus untuk tidak mencemari lingkungan, memiliki sistem penguraian secara bertahap, dilengkapi dengan sistem desinfektan, hemat lahan, antibocor atau tidak rembes, tahan korosi, pemasangan mudah dan cepat, serta tidak membutuhkan perawatan khusus.
Kotoran diproses penguraian secara biologis dan filterisasi secara bertahap melalui tiga kompartemen. Media kontak yang dirancang khusus dan sistem desinfektan sarana pencuci hama yang digunakan sesuai kebutuhan membuat buangan limbah kotoran tidak menyebabkan pencemaran pada air tanah dan lingkungan.
Untuk mengantisipasi krisis air bersih, kita harus mengembangkan sistem pengurangan pemakaian air (reduce), penggunaan kembali air untuk berbagai keperluan sekaligus (reuse), mendaur ulang buangan air bersih (recycle), dan pengisian kembali air tanah (recharge).
Beberapa arsitek sudah mulai mengembangkan sistem pengolahan air limbah bersih yang mendaur ulang air buangan sehari-hari (cuci tangan, piring, kendaraan, bersuci diri) maupun air limbah (air buangan dari kamar mandi) yang dapat digunakan kembali untuk mencuci kendaraan, membilas kloset, dan menyirami taman, serta membuat sumur resapan air (1 x 1 x 2 meter) dan lubang biopori (10 sentimeter x 1 meter) sesuai kebutuhan.
Penggunaan panel sel surya meringankan kebutuhan energi listrik bangunan dan memberikan keuntungan tidak perlu takut kebakaran, hubungan pendek (korsleting), bebas polusi, hemat listrik, hemat biaya listrik, dan rendah perawatan. Panel sel surya diletakkan di atas atap, berada tepat pada jalur sinar matahari dari timur ke barat dengan posisi miring. Kapasitas panel sel surya harus terus ditingkatkan sehingga kelak dapat memenuhi kebutuhan energi listrik setiap bangunan.
Pada akhirnya di tengah kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) dan krisis ekonomi sekarang, cara pandang merencanakan atau merenovasi bangunan sudah harus mulai diubah. Bagaimana menghadirkan bangunan yang hemat (bahan bangunan, waktu, tenaga) yang berujung pada penghematan anggaran biaya dengan tetap menjaga kualitas dan tampilan bangunan, serta ramah lingkungan.
Sejak fenomena pemanasan global mencuat, isu-isu yang berkaitan dengan lingkungan banyak digaungkan di berbagai bidang termasuk properti. Di bidang ini, pemilihan material atau bahan bangunan adalah salah satu langkah yang dilakukan dalam upaya menciptakan green property atau properti yang ramah lingkungan. Masyarakat Indonesia saat ini semakin sadar akan pentingnya memilih bahan atau material yang mengakomodasi isu-isu lingkungan misalnya yang menyangkut go green, low energy, dan antitoksin.
Secara sederhana, dijelaskan bahwa pemilihan material yang ramah dapat dijabarkan menjadi dua hal yakni dari sisi teknologi dan penggunaan. Dari sisi teknologi, misalnya, pemilihan bahan sebaiknya menghindari adanya toksin atau racun dan diproduksi tidak bertentangan dengan alam. Sebagai contoh, minimalkan penggunaan material kayu, batu alam ataupun bahan bangunan yang mengandung racun seperti asbeston.
Sedangkan dari sisi penggunaan, pemilihan material yang ramah lingkungan misalnya menggunakan lampu hemat energi seperti lampu LED yang rendah konsumsi listrik, semen instan yang praktis dan efisien, atau pun memilih keran yang memakai tap yang hanya mengeluarkan air dalam volume tertentu.



Pemanfaatan Material Reused pada Hunian


Dengan kreativitas, material reused bisa diaplikasikan pada hunian. Material bekas yang unik justru bisa membuat hunian memiliki nilai seni yang tinggi. Bahan material memang menjadi hal paling penting dalam membangun sebuah hunian. Termasuk saat kita memilih material apa yang akan kita gunakan. Tak hanya dari segi estetis yang dipertimbangkan, kekuatan serta ketahanan material patut untuk diperhatikan demi mencapai suatu hunian yang cantik dan menarik.
Material reused (daur ulang) bisa dikatakan sebagai material bekas bangunan lain atau material dari benda/barang dengan kegunaan lain yang bisa digunakan kembali sebagai material bangunan.
Kendati demikian, beberapa dari material bekas yang masih bisa dipakai sebagai bahan bangunan relatif besar. Misalnya material kayu, kayu dari atap, kusen pintu dan jendela dengan kacanya, genting bongkaran, material bongkaran yaitu bata dan tembok yang dirobohkan dari rumah lama, kayu dari bekas peti kemas, kontainer baja bekas pengangkutan barang, besi bongkaran struktur atau konstruksi bangunan lain, misalnya bekas pabrik, paving block bekas.
Untuk mengaplikasikan material reused ke dalam sebuah bangunan baru memang bukan perkara mudah. Penghuni dituntut untuk lebih teliti. Dalam arti, dari segi kekuatan material reused masih terjamin. Hal tersebut dibenarkan Probo. Menurutnya, si penghuni harus mengetahui apakah material tersebut kuat atau tidak, rapuh atau tidak. Sekiranya tidak bisa digunakan karena kualitas bahan sudah menurun drastis, maka tidak disarankan menggunakan material tersebut.
Beberapa jenis bahan bangunan reused yang kadang memiliki kualitas tinggi, yaitu kusen kayu jati, paving block, dan sebagainya. Beberapa hal lain yang perlu untuk diperhatikan adalah fungsi dari material tersebut. Misalnya, dalam mempergunakan material reused, tentunya si pengguna perlu memperhatikan fungsi dari material yang akan dia gunakan. Maksudnya, apakah bisa difungsikan sebagai material dengan fungsi struktural atau hanya bahan material pengisi bangunan. Hal lain yang tidak kalah penting untuk diperhatikan, ialah perincian bagian desain yang dapat mempergunakan material ini.


PEMILIHAN MATERIAL BAHAN BANGUNAN RAMAH LINGKUNGAN

Penggunaan material lokal justru akan lebih menghemat biaya (biaya produksi, angkutan). Kreativitas desain sangat dibutuhkan untuk menghasilkan bangunan berbahan lokal menjadi lebih menarik, keunikan khas lokal, dan mudah diganti dan diperoleh dari tempat sekitar. Perpaduan material batu kali atau batu bata untuk fondasi dan dinding, dinding dari kayu atau gedeg modern (bambu), atap genteng, dan lantai teraso tidak kalah bagus dengan bangunan berdinding beton dan kaca, rangka dan atap baja, serta lantai keramik, marmer, atau granit. Motif dan ornamen lokal pada dekoratif bangunan juga memberikan nilai tambah tersendiri.
Pemanfaatan material bekas atau sisa untuk bahan renovasi bangunan juga dapat menghasilkan bangunan yang indah dan fungsional. Kusen, daun pintu atau jendela, kaca, teraso, hingga tangga dan pagar besi bekas masih bisa dirapikan, diberi sentuhan baru, dan dipakai ulang yang dapat memberikan suasana baru pada bangunan. Lebih murah dan tetap kuat.
Material ramah lingkungan memiliki kriteria sebagai berikut;
a. tidak beracun, sebelum maupun sesudah digunakan
b. dalam proses pembuatannya tidak memproduksi zat-zat berbahaya bagi lingkungan
c. dapat menghubungkan kita dengan alam, dalam arti kita makin dekat dengan alam karena kesan alami dari material tersebut (misalnya bata mengingatkan kita pada tanah, kayu pada pepohonan)
d. bisa didapatkan dengan mudah dan dekat (tidak memerlukan ongkos atau proses memindahkan yang besar, karena menghemat energi BBM untuk memindahkan material tersebut ke lokasi pembangunan)
e. bahan material yang dapat terurai dengan mudah secara alami
Material yang ramah lingkungan menurut kriteria diatas misalnya; batu bata, semen, batu alam, keramik lokal, kayu, dan sebagainya. Ramah lingkungan atau tidaknya material bisa diukur dari kriteria tersebut atau dari salah satu kriteria saja, seperti kayu yang makin sulit didapat, tapi bila dipakai dengan hemat dan benar bisa membuat kita merasa makin dekat dengan alam karena mengingatkan kita pada tumbuh-tumbuhan.
Semen, keramik, batu bata, aluminium, kaca, dan baja sebagai bahan baku utama dalam pembuatan sebuah bangunan berperan penting dalam mewujudkan konsep bangunan ramah lingkungan.
Untuk kerangka bangunan utama dan atap, kini material kayu sudah mulai digantikan material baja ringan. Isu penebangan liar (illegal logging) akibat pembabatan kayu hutan yang tak terkendali menempatkan bangunan berbahan kayu mulai berkurang sebagai wujud kepedulian dan keprihatinan terhadap penebangan kayu dan kelestarian bumi. Peran kayu pun perlahan mulai digantikan oleh baja ringan dan aluminium.
Baja ringan dapat dipilih berdasarkan beberapa tingkatan kualitas tergantung dari bahan bakunya. Rangka atap dan bangunan dari baja memiliki keunggulan lebih kuat, antikarat, antikeropos, antirayap, lentur, mudah dipasang, dan lebih ringan sehingga tidak membebani konstruksi dan fondasi, serta dapat dipasang dengan perhitungan desain arsitektur dan kalkulasi teknik sipil.
Kusen jendela dan pintu juga sudah mulai menggunakan bahan aluminium sebagai generasi bahan bangunan masa datang. Aluminium memiliki keunggulan dapat didaur ulang (digunakan ulang), bebas racun dan zat pemicu kanker, bebas perawatan dan praktis (sesuai gaya hidup modern), dengan desain insulasi khusus mengurangi transmisi panas dan bising (hemat energi, hemat biaya), lebih kuat, tahan lama, antikarat, tidak perlu diganti sama sekali hanya karet pengganjal saja, tersedia beragam warna, bentuk, dan ukuran dengan tekstur variasi (klasik, kayu).
Bahan dinding dipilih yang mampu menyerap panas matahari dengan baik. Batu bata alami atau fabrikasi batu bata ringan (campuran pasir, kapur, semen, dan bahan lain) memiliki karakteristik tahan api, kuat terhadap tekanan tinggi, daya serap air rendah, kedap suara, dan menyerap panas matahari secara signifikan.
Kehalusan permukaan dan warna bahan bangunan sangat menentukan iklim mikro di sekitar bangunan, warna cerah dan permukaan licin adalah pemantul sinar matahari yang baik dan menaikkan suhu sekitar. Warna gelap dan permukaan kasar akan membantu meredam dan menyerap sinar dan panas matahari. Bahan bangunan berpori mudah meluncurkan panas dan meluncurkannya kembali jika suhu udara disekitarnya menurun. Sangat bijaksana jika memanfaatkan bahan-bahan bangunan alami seperti aslinya untuk pelapis dinding dan lantai luar.
Di samping itu diperlukan teknik insulasi yang baik untuk meredam pancaran panas genteng ke ruang di bawahnya (kasur ijuk sangat baik sebagai isolasi atap di bawah genteng daripada nylon wool). Dalam ruang atap yang tertutup rapat, terjadi udara yang lebih panas dari sinar matahari atau suhu udara luar. Panas pada ruang atap akan dipancarkan ke bawah ke langit-langit dan dipancarkan lagi ke ruang fungsional di bawahnya.
Dalam hal sanitasi, septic tank dengan penyaring biologis (biological filter septic tank) berbahan fiberglass dirancang dengan teknologi khusus untuk tidak mencemari lingkungan, memiliki sistem penguraian secara bertahap, dilengkapi dengan sistem desinfektan, hemat lahan, antibocor atau tidak rembes, tahan korosi, pemasangan mudah dan cepat, serta tidak membutuhkan perawatan khusus.
Kotoran diproses penguraian secara biologis dan filterisasi secara bertahap melalui tiga kompartemen. Media kontak yang dirancang khusus dan sistem desinfektan sarana pencuci hama yang digunakan sesuai kebutuhan membuat buangan limbah kotoran tidak menyebabkan pencemaran pada air tanah dan lingkungan.
Ikllim mikro di sekitar bangunan perlu dikendalikan dengan memanfaatkan tanaman hijau yang berdaun gelap dan lebat. Sangat ideal jika 30% – 70% volume ruang lahan bangunan terisi tanaman hijau dan 30% – 70% luasan permukkaan tanah tidak ditutupi material keras.
KLASIFIKASI MATERIAL BAHAN BANGUNAN RAMAH LINGKUNGAN

Teknologi pabrikasi particle board dari bahan limbah bertujuan untuk mengurangi jumlah limbah berbagai jenis limbah menjadi produk lain/ baru bernilai jual tingi seperti Particle board, MDF, OSB dengan menggunakan satu mesin produksi yang sama, mereduksi limbah sehingga ZERO, system yang ramah lingkungan.
Sangat tepat untuk mengatasi limbah industri pengolahan kayu berupa serbuk gergaji, tatalan, serutan kayu, sawmill, industri furniture berupa potongan, serbuk dan debu PB/ MDF, furniture bambu, daun sisa penyulingan kayu putih, debu tembakau industri rokok, kulit buah kopi, coco peat limbah coco fiber, Batang dan pelepah sawit menjadi Block Board papan sawit dan Particle board pelepah sawit. Limbah Industri kertas atau Paper Sludge menjadi Particle board dan Wood Block sebagai pengganti papan dan balok kayu untuk Pallet.
Batang dan pelepah sawit menjadi Block Board papan sawit dan Particle board pelepah sawit.
 


Regenerasi Alami Hardwood AS
Pengelolaan jangka panjang hutan hardwood AS untuk produksi kayu lestari memberikan kontribusi yang signifikan pada penyimpanan karbon. Setiap tahun selama 50 tahun terakhir hutan hardwood AS menyimpan setara dengan 165 juta ton karbon dioksida (tidak termasuk seluruh bahan yang dipanen). Ini cukup untuk membayar sekitar 14 % emisi rumah tangga tahunan AS pada tahun 2006, atau 9 % emisi transportasi tahunan AS pada tahun yang sama. Kontribusi langsung hutan hardwood Amerika pada penyimpanan karbon ini tidak termasuk karbon yang disimpan dalam penyimpanan jangka panjang sebagai komponen produk hardwood Amerika.
Hardwood Amerika sangat efisien energi. Proses mengubah kayu menjadi produk bangunan yang dapat digunakan membutuhkan jauh lebih sedikit energi dibanding kebanyakan bahan lain. Selanjutnya, kebanyakan energi yang diperlukan untuk menghasilkan produk hardwood Amerika merupakan bio-energi. Penelitian tahun 2007 tentang 20 pabrik penggergajian kayu di kawasan Timur Laut Amerika Serikat mengungkap bahwa 75 % energi yang diperlukan untuk membuat kayu kering dengan oven diambil dari biomassa (seperti kulit pohon, serbuk gergaji dan serpihan kayu). Alhasil, jauh lebih sedikit karbon dioksida yang diemisikan saat membuat kayu  hardwood Amerika dibanding saat membuat banyak bahan daur ulang. 
Hasil utama penelitian di atas adalah penyusunan Deklarasi Produk Lingkungan (Environmental Product Declarations/EPDs) untuk produk hardwood Amerika. EPD akan menjadi alat yang penting untuk komunikasi data LCA yang spesifik produk kepada para specifier dan pengguna akhir. EPD dirancang untuk memungkinkan perbandingan performa lingkungan produk secara adil melalui pengadaan informasi yang terstruktur, berbasis ilmu pengetahuan dan terverifikasi. EPD yang menyediakan informasi di seluruh rantai pasok produk, dirancang untuk bersikap netral dengan penilaian yang tidak berbasis nilai, dan diharuskan untuk diverifikasi keakuratannya oleh pihak ketiga yang independen.  Standar internasional – ISO 14025 – telah disiapkan untuk menyediakan pedoman struktur dan isi EPD.

Jadi apakah hardwood Amerika merupakan bahan bangunan yang paling ramah lingkungan di bumi? Nah, sejatinya kita belum tahu. Kita masih harus menunggu hasil penelitian PE International dan publikasi EPD yang lebih luas. Namun hardwood Amerika merupakan salah satu calon utamanya – mengingat kemampuan unik mereka menggabungan basis sumberdaya yang luas dan terus meluas, ekstraksi dengan intensitas rendah, sifat penyimpanan karbon, emisi rendah selama pengolahan, performa yang kuat dalam penggunaan, dan industri dengan komitmen yang tegas pada transparansi dan performa lingkungan yang lebih baik.

Limbah Bubur Kertas Untuk Papan Beton

Kertas yang dipergunakan untuk sarana tulisan ini berbahan dasar pulp, serat tebu, atau serat bambu, atau serat pohon pinus. Paper sludge atau bubur kertas berasal dari limbah pengolahan serat pulp menjadi kertas, mengandung mineral seperti kaolinite dan kalsium karbonat. Mineral tersebut berfungsi sebagai pelapis di permukaan kertas agar halus. Besar kandungannya tergantung jenis kertas, pada umumnya 5 g/m2 – 20 g/m2 (Editing, 1985). PT. Adiprima Suraprinta dari Jawa Pos Group yang berkedudukan di Legundi Gresik memproduksi kertas dari kertas bekas. Bahan baku diproses menjadi bubur kertas, selanjutnya dipilah, warna putih diproses sebagai kertas, sedangkan limbah berwarna abu-abu karena warna tinta dibuang. Jumlah limbah bubur kertas kira-kira 250 ton/hari.
Unsur-unsur yang terkandung dalam bubur kertas
disebutkan dalam Tabel 1. (Irawan B., 2006).


Tabel 1. Unsur dalam Bubur Kertas.

                                                                               
Nama unsur
Berat(gram)
Satuan(ppm)

Plumbum, Pb
0,004339
17,356
Cadmium, Cd
0,000219
0,876
Chromium, Cr
0,002138
8,552
Zinc, Zn
0,0126635
50,654
Mercury , Hg
0,000008
0,032
Phospate, PO4
0,00001125
0,045

sumber: PT Adiprima Supraprinta (2006)

Bubur kertas (bk) tersusun atas 60% air dan sisanya berbentuk padat (Ishimoto, 2000). Selain itu, abu bubur kertas mengandung kaolinit dan kalsium karbonat. Pembakaran pada suhu 1.223-1.373° K menghasilkan abu aluminium silikat amorf, jika bereaksi dengan alkali akan mengkristal, berubah menjadi zeolit. Zeolit sebagai bahan microporous material yang mampu memperkuat permukaan beton dari serangan asam dengan mensubstitusikan 10% dari semen.
Pemanfaatan limbah bubur kertas selama ini hanya dipakai sebagai urugan tanah di lokasi pabrik, serta lokasi permukiman warga di sekitar pabrik di Legundi Gresik, demikian juga halnya di Wisconsin (Naik, Tarun R. dan Kraus, Rudolph N., 2007,Kortnik Joze, 2007, Garrett G. David, Principal P.G., dan Richardson G.N. & Associates, 2007) Tay, J.H. (1987) memanfaatkan limbah bubur kertas untuk bahan bangunan bata. Kemudian dari limbah sewage sludge ash untuk bahan bata telah dilakukan oleh Lin, D.F., dan Weng, C.H. (2001), selanjutnya Rouf Abdur Md. dan Hossain Delwar Md. (2006) menyatakan bahwa bata dari lumpur arsenic-iron memiliki kekuatan tekan 20-80% dari kekuatan normal yaitu 800 kg/cm2, dan berdasarkan toxicity characteristic leaching procedure (TCLP) tes dinyatakan bahwa kandungan arsenik dalam bata tergolong belum membahayakan.
Lumpur dari kolam pengolahan limbah copper slag dan limbah lempung terowongan dapat dijadikan agregat beton yang ringan (50% dari berat normal). Kuat tekan beton dengan agregat tersebut antara 31,0 dan 38,5 N/mm2, besar konsentrasi unsur beracun masih di bawah standar World Health Organization (Tay, J.H. Show, K.Y. dan Hong, S.Y., 2002). Kuat tekan mortar dengan bubur limbah phosphate semen dan abu terbang 95% dari kontrol (Pinarli Vedat, Karaca Gizem, Garay Salihoglu, Salihoglu Nezih Kamil, ----). Tarun R. Naik, dan Thomas S. Fribergb dan Yoon-moon Chuna (2003) mencampurkan limbah serat bubur kertas dalam campuran beton menghasilkan kuat tarik dan kuat tekan yang lebih tinggi dari beton normal.
Kemudian Wajima Takaaki, et.al.(2004) mengatakan bahwa paper sludge setelah dibakar mengandung unsur Ca dalam jumlah tinggi dalam bentuk anorthite (CaAl2Si2O8) dan gehlenite (Ca2Al2SiO7), unsur tersebut dapat meningkatkan kekuatan mekanik beton. Gallardo Ronaldo S., dan Adajar Mary Ann Q. (2006) mengungkapkan bahwa penggantian bubur kertas 5-10% memperbaiki karakteristik beton.

METODE PEMBUATAN

Perbandingan bahan papan dalam berat (kg) terdiri atas campuran untuk papan tanpa bubur kertas (papan kontrol) yaitu:
(a) 1 semen (sm) : 3 pasir (ps) : 0 limbah bubur kertas (bk) : 3 kerikil (kr) : 0,7 air. Perbandingan ini menyesuaikan komposisi papan beton yang telah diproduksi UD. Wijaya di
Driyorejo Gresik. Perbandingan berikutnya dengan penggantian sejumlah pasir oleh bubur kertas (replacement), nilai sm, kr, dan air sama dengan nilai perbandingan papan kontrol.

Penambahan bubur kertas sebagai pengganti sebagian pasir dalam campuran dilakukan dengan merendamnya dalam air lebih dahulu, selanjutnya bongkahan bubur kertas diaduk sampai butiranbutiran bergradasi sama seperti bubur, kemudian diangin-anginkan selama 3 jam, agar kondisi bubur kertas jenuh kering muka (saturated surface dryssd).
Dengan demikian diharapkan air dalam campuran sebesar 0,7 dari berat semen tidak diserap oleh butiran bubur kertas. Tahap berikutnya kerikil dan pasir yang sudah tercuci dan saturated surface dry dimasukkan ke dalam ruang campur, diikuti oleh semen dan air. Selanjutnya mesin pencampur yang digerak oleh motor listrik dijalankan selama 8 menit, sehingga adukan homogen. Penuangan beton segar ke dalam cetakan ukuran panjang 200 mm lebar 100 mm dan tebal 50 mm, kemudian didiamkan selama 24 jam.
Dimensi spesimen berukuran 200x100x50 mm3. Ada 13 jenis campuran, setiap campuran terdiri atas 11 papan beton, jadi jumlah papan keseluruhan 143 buah. Setelah papan beton dilepas dari cetakan, direndam dalam air selama 3 hari, tanpa mengukur pH air. Selanjutnya benda uji diangkat dari rendaman, diletakkan dalam ruang terlindung dari sinar matahari. Penyiraman dengan air pada papan dilakukan pada pagi dan sore hari sampai dengan umur 28 hari.
Pemeriksaan pada material limbah bubur kertas adalah berat jenis, modulus kehalusan butir, dan penyerapan air. Kemudian pengujian yang dilakukan pada papan yaitu: pengamatan ukuran (visual), penyerapan air, berat per volume, rembesan air, serta kuat lentur.

HASIL DAN PEMBAHASAN
Berat Jenis dan Modulus Kehalusan Butir Bubur Kertas

Pemeriksaan berat jenis bubur kertas dalam keadaan jenuh kering permukaan menunjukkan hasil sebesar 1,24 gram/cm3, sedangkan dalam keadaan kering oven sebesar 0,47 gram/cm3. Analisis ayakan bubur kertas yang diambil dari tempat penampungan pabrik dalam kondisi basah, menunjukkan bahwa modulus kehalusan butir sebesar 3,98. Jumlah terbanyak dari butiran tertinggal di ayakan sebesar 74,69% dari keseluruhan berat berdiameter lebih dari 19,0 mm.
Penggumpalan antar butiran bubur kertas dalam susunan ayakan terjadi karena getaran motor listrik yang menggerakkan ayakan mempengaruhi butiran-butiran pada kondisi basah saling menempel dan melekat. Kadar air rata-rata bubur kertas dari 3 bentuk
spesimen 66,03%, 67,7%, dan 64,06% dari kubus a 5cm x 5cm x 5cm, kubus b 15cm x 15cm x 15cm, dan silinder diameter 15 cm dan tinggi 30 cm (d15, t30). Penyerapan air rata-rata hingga 65,35% menandakan bahwa bubur kertas memiliki sifat menyerap air. Nilai rata-rata tersebut lebih tinggi 6,535 % dari pada kadar air bubur kertas oleh Ishimoto (2000). Salah satu penyebabnya adalah karakteristik bubur kertas yang berbeda. Atau bisa jadi sama yaitu sama-sama dihasilkan dari limbah produksi kertas yang berbahan baku kertas bekas, tetapi kandungan unsur dan besar butiran berbeda.

Pengamatan Visual Papan

Pengamatan visual papan beton 20 x 10 x 5 cm3 tanpa dan dengan bubur kertas pada umur 32 hari, menunjukkan bahwa permukaan papan rata, rusukrusuk relatif tajam dan siku, tidak retak. Permukaan papan beton dengan perbandingan berat pasir dan bubur kertas 1,25: 1,75, sampai dengan jumlah bubur kertas maksimum dan pasir minimum (0 ps:3
bubur kertas) tampak butiran bubur kertas yang timbul ke permukaan papan. Warna papan beton abu-abu, sedangkan warna lebih tua tampak pada papan beton kontrol.
Ukuran papan beton menyusut pada campuran dengan 0ps:3bubur kertas yaitu
19,98x9,92x4,94cm3, meskipun dimensi menyusut tetapi tidak lebih dari 1%. Sesuai dengan Standar Industri Indonesia SII 0797-83 menyatakan bahwa toleransi panjang, lebar,dan tebal berturut-turut 5 mm, 5 mm, 1,0 mm.
Bubur kertas yang diambil dari tempat pembuangan limbah di pabrik setelah dicetak dalam silinder baja diameter 15 cm tinggi 30 cm dalam ruang terlindung matahari selama 1x24 jam, ternyata belum mampu berdiri tegak seperti layaknya silinder beton. Hal ini disebabkan kandungan air dalam massa bubur kertas dalam silinder baja masih tinggi, dan ikatan antar butiran lebih kecil dari berat butiran. Setelah 4x24jam dalam cetakan silinder,
bubur kertas berbentuk silinder dapat berdiri dengan tinggi 29,41cm. Permukaan silinder bubur kertas relatif lebih keras, kandungan air berkurang.
Pengukuran pada 3 silinder bubur kertas umur 210 hari, menunjukkan, nilai rata-rata tinggi berkurang 13,2%, diameter berkurang 6,7%, volume berkurang 24,33%, dan berat berkurang 66,895% dari semula. Posisi silinder tampak sudah tidak vertikal, ada bagian yang masuk ke dalam seperti lekuk pinggang, demikian juga permukaan alas bawah dan atas tidak rata. Selain itu bau silinder bubur kertas sangat menusuk hidung (tidak sedap). Pada beberapa bagian permukaan silinder setelah 2 x 7 hari mulai ditumbuhi jamur yang berwarna biru gelap hampir hitam.

Penyerapan Air Papan

Sumbu ordinat pada gambar di bawah sengaja diletakkan di sisi atas dengan tujuan untuk memberikan dan memudahkan dalam penilaian, sifat “dapat dipakai (menguntungkan)” jika arah kurva naik kekanan, sebaliknya tidak menguntungkan jika arah kurva turun kekanan.
Papan beton dengan campuran bubur kertas mempunyai daya resap air yang tinggi, bila dibandingkan papan beton tanpa campuran bubur kertas (kontrol). Pemeriksaan kadar air dilakukan pada umur benda uji 39 hari. Penyerapan air 5,59 % ditunjukkan oleh papan beton kontrol. Nilai penyerapan air papan beton dengan perbandingan ps dan bubur kertas 91,67%:8,33%, dan 83,33%:16,67% menjadi 1,6, dan 2,3 dari nilai kontrol. Ketiga jenis campuran papan tersebut telah memenuhi SII 0797-83, yang menyebutkan bahwa kadar air maksimal 14 %. Seterusnya nilai penyerapan air bertambah besar yaitu 2,97; 6,68; 7,23; dan 9,18 dari kontrol, pada perbandingan ps dan bubur kertas 75%:25%, 50%:50%, 25%:75%,
dan 0%:100%.
Kini semakin banyak penambahan bubur kertas yang dicampurkan pada pembuatan papan beton, mempertinggi nilai penyerapan air. Kenaikan tersebut dikarenakan bubur kertas menyerap air.
Selama papan tidak dalam proses perawatan yaitu 39-28=11 hari, terjadi penguapan air yang belum terikat secara kimia dalam papan beton. Lapisan CSH yang keras terbentuk oleh ikatan semen, air, dan agregat, belum mampu melindungi seluruh butiran bubur kertas dalam kesatuan bentuk papan (Neville, 1982). Hal ini telah ditegaskan oleh Ishimoto (2000) bahwa bubur kertas terdiri atas 40% padat dan 60% air.
Papan beton yang mengandung bubur kertas memiliki berat yang relatif lebih ringan, karena massa yang porus mudah menyerap air. Air yang terikat secara fisik dalam massa bubur kertas lambat laun menguap akibat panas sekitar, sehingga terbentuk rongga. Rongga dalam massa papan membentuk kepadatan berkurang. Jika kepadatan berkurang, maka kekuatan papan juga menurun.


Uji lentur papan
 



Dengan kata lain boleh juga dikatakan kerapatan massa relatif kecil (meskipun belum dilakukan pemeriksaan dengan alat yang sesuai). Kepadatan massa papan semakin berkurang, yang disebabkan oleh substitusi bubur kertas atas pasir yang semakin banyak, berkorelasi dengan penurunan sifat mekanik beton seperti, kuat tekan, kuat tarik, kuat lentur beton (Nawy, 1986).





SIMPULAN

Butiran bubur kertas memiliki berat jenis relatif lebih ringan daripada pasir, tetapi bergradasi hampir sama dengan butiran agregat kasar. Papan berbahan butiran bubur kertas memiliki berat yang relatif ringan.
Bubur kertas memiliki sifat menyerap air. Sifat ini kurang menguntungkan pada campuran papan beton, karena papan yang berbahan substitusi bubur kertas banyak sangat peka terhadap temperatur sekitar, air dalam papan mudah menguap. Air yang diperlukan oleh semen untuk bereaksi membentuk kalsium silikat hidrat bisa jadi berkurang, sehingga sifat keras terkurangi (Neville, 1982; Besari, 2007).
Papan beton dengan perbandingan berat pasir dan bubur kertas 2,75:1,25 dan 2,5:1,5 memenuhi SII 0797-83, karena kadar air papan maksimal adalah 14 %. Tetapi berdasarkan nilai kerapatan dan kuat lentur, maka tidak satupun papan beton dengan bubur kertas sebagai bahan pengganti pasir yang memenuhi standar SII 0797-83.
Material bubur kertas memiliki sifat kembang susut yang relatif tinggi daripada bahan beton seperti pasir dan kerikil. Sifat kembang dan susut yang tinggi pada massa komposit seperti papan beton dengan penggantian pasir oleh sejumlah bubur kertas memicu timbulnya retak.
Pemakaian bubur kertas dalam papan berbahan beton diperlukan bahan lain untuk melindungi permukaan papan, agar tidak terjadi penguapan yang berlebihan.


Pemanfaatan Limbah Agro



·        GENTENG SEJUK
Genteng semen ijuk adalah genteng beton yang dibuat  dengan  campuran pasir, semen dan ijuk sebagai bahan pengisi.
Manfaat
ü Menunjang program pembangunan RS/RSS dan Rusun
ü Menciptakan lapangan kerja
ü Digunakan sebagai penutup atap
Spesifikasi Teknis
 Bahan baku 
:
 semen + ijuk + pasir
 Ukuran
:
 38 x 23 1.2 cm
 Berat
:
 2.5 kg/bh
 Beban Lentur 
:
 80 kg/cm2
·         PANEL SERAT TEBU
Pengembangan bahan bangunan dari limbah tebu menjadi papan serat tebu
Manfaat
ü  Menunjang program pembangunan RS/RSS dan Rusun
ü  Mengurangi pencemaran lingkungan
ü  Menciptakan lapangan kerja
ü  Digunakan untuk langit-langit dan dinding partisi non-struktural
Spesifikasi Teknis
 Bahan baku
 :
 ampas tebu + semen
 Ukuran
 :
 240 x 60 x 2.5 cm
 Kuat Lentur
 :
 40 - 50 kg/cm2
·         PANEL SEKAM PADI
Salah satu pengembangan bahan bangunan dari limbah sekam padi menjadi Papan Sekam Padi
Manfaat
ü  Menunjang program pembangunan RS/RSS dan Rusun
ü  Mengurangi pencernaran lingkungan
ü  Menciptakan lapangan kerja
ü  Digunakan untuk langit-langit dan dinding partisi non-strukutral
Proses Pembuatan
Sekam padi direndam dalam air atau dapat langsung digiling, dicampur dengan semen,dicetak dengan alat manual. Proporsi campuran = 1 semen : 4 sekam padi atau maksimum 20%
·         SAWIT BLOCK
Pengembangan bahan bangunan dari limbah SAWIT menjadi Conblock.
Manfaat
ü  Menunjang program pembangunan RS/RSS dan Rusun
ü  Mengurangi pencemaran lingkungan
ü  Menciptakan lapangan kerja
ü  Digunakan untuk dinding partisi non-struktural


Spesifikasi Teknis
 Komposisi camp.
 :
 1 PC : 6 Agregat ( 20% Limbah + 80% Pasir)
 Ukuran
 :
 8 x 20 x 40 cm
 Kuat Lentur
 :
 25 kg - 35 kg / cm2





Kertas Bekas (Papercrate) Sebagai Bahan Dinding



Kertas bekas yang dimaksud disini adalah berupa kertas yang mempunyai tekstur kasar seperti kertas Koran atau kardus, yang dihancurkan menjadi semacam bubur kertas dan diolah lagi menjadi bata kertas agar dapat digunakan untuk penggunaan lebih lanjut sebagai material bahan bangunan.

SPESIFIKASI KERTAS BEKAS (PAPERCRATE)
· Mempunyai massa dan berat yang sangat ringan
· Bersifat lembek, sehingga mudah dibentuk
· Cukup kuat dalam menahan gaya vertikal
· Mempunyai bentuk yang ramping, sehingga memudahkan dalam pengemasan dan distribusinya
· Tidak mengandung racun, karena tidak menggunakan cairan kimia yang berbahaya.

PENGOLAHAN KERTAS BEKAS (PAPERCRATE)
Kertas bekas khususnya yang berbahan Koran (mempunyai serat yang kasar) kemudian di campurkan dengan air dan semen dengan kisaran perbandingan antara kertas:air:semen adalah 6:2:2. Setelah tercampur, bubur kertas tersebut dicetak sesuai keinginan (biasanya dicetak dalam bentuk ukuran batu bata), kemudian dikeringkan sehingga menjadi sebuah “bata” yang terbuat dari kertas dan siap digunakan. 
Bahan kertas sudah dapat dipastikan ramah lingkungan karena dapat mengurangi pembuangan sampah kertas dan juga meningkatkan kualitas dan kuantitas daur ulang kertas menjadi sebuah bahan dinding.

Dinding papaercrate tetap dapat memiliki bukaan yang lebar

PENERAPAN KERTAS BEKAS
Kertas bekas yang sering kita temui sehari – hari dapat diolah menjadi berbagai macam kerajinan tangan ataupun ornamen – ornamen. Namun, dengan teknologi rekayasa yang tepat maka kertas ini dapat digunakan sebagai bahan dasar pembuatan dinding bangunan, tetapi tentunya untuk skala bangunan kecil atau bangunan berlantai 1. Secara teknis, bahan kertas akan mudah menyerap dan mengeluarkan panas di dalam ruangan dan juga mampu meredam kebisingan. Namun, bahan kertas ini tidak cocok digunakan di ruang luar atau ruang – ruang yang sering terkena air karena akan merusak kompisisi campuran (semen, air, dan kertas) dari dinding kertas tersebut, meskipun dalam penerapannya, dinding kertas ini biasanya sudah dilapisi semen atau diplester bagian terluarnya.

PEMASANGAN KERTAS BEKAS (PAPERCRATE) PADA DINDING
1. “Bata” dari kertas bekas yang sudah siap digunakan di pasang selayaknya memasang batu bata pada dinding – dinding konvensional seperti biasa.
2. Kemudian, bata kertas tersebut direkatkan dengan menggunakan campuran semen dan air, tetapi dengan perbandingan semen yang lebih rendah, yaitu perbandingan semen:air adalah 2:6.
3 . Sebelum diberi finishing seperti plester atau acian, dinding kertas dikeringkan dan didiamkan pada suhu lebih dari 30 derajat celcius selama satu hari penuh.


Rumah yang dindingnya terbuat dari bahan pepercrate

Pada saat pengolahan kertas bekas ini (atau biasa disebut dengan papercrate) kertas yang digunakan adalah kertas dengan serat kasar seperti kertas koran, karena kertas dengan serat yang kasar akan mempunyai kekuatan mereka yang baik dibandigkan dengan kertas biasa. Secara teknis kertas ini lebih optimal dalam menyerap panas pada siang hari yang kemudian dilepas kembali pada malam hari. Sehingga penggunaan pendingin ruangan pada siang hari dapat berkurang. Selain itu, dengan menggunakan dinding kertas ekas ini maka secara tidak langsung kita juga membantu mengurangi sampah–sampah kertas sehingga bahan ini dapat dikatakan ramah lingkungan.


Proses pemasangan papercrate pada dinding



KELEBIHAN PENERAPAN KERTAS BEKAS (PAPERCRATE) PADA DINDING
ü  Mampu menyerap panas
ü  Meredam suara / kebisingan
ü  Tidak mengandung racun
ü  Biaya produksi murah
ü  Daya kering yang cepat
ü  Penggunaan semen yang sedikit.


KEKURANGAN PENERAPAN KERTAS BEKAS (PAPERCRATE) PADA DINDING
ü  Tidak tahan lama terhadap air, apabila dinding jenis ini sering terkena atau dialiri air, maka komposisi didalamnya akan rusak dan dinding akan menjadi lemah serta mudah roboh .
ü  Butuh waktu yang relatif lama untuk mempersiapkan papercrate ini hingga dapat digunakan sebagai material bangunan.

 

Linoleum: Bahan Pelapis Lantai Ramah Lingkungan


            Bahannya elastis, tersusun dari material anorganik dan organik. Pilihan warna dan ragam yang banyak memberi keuntungan untuk desain-desain masa kini. Bahan pelapis lantai ini populer di Eropa. Banyak pilihan warna dan desainnya. Produk ini bisa menjadi alternatif bahan untuk lantai rumah kita, lantai area komersial, bahkan rumah sakit karena mudah dipasang, dirawat, dan dibersihkan. Untuk memasangnya hanya butuh permukaan rata seperti lantai semen, lalu diberi perekat khusus. Kalau mau afdol, perekatnya juga pakai  yang  ramah lingkungan.  

            Sebagai bahan lantai, jika tak lagi dibutuhkan, Linoleum   mudah diurai kembali oleh tanah, alias ramah lingkungan. Inilah yang  menjadi salah satu kelebihannya. Standar Eropa yang ketat tentang material ramah lingkungan membuat bahan ini dipergunakan sebagai salah satu alternatif pilihan para desainer. Syarat yang ketat itu bisa dipenuhi oleh bahan pelapis Linoleum ini. Ada satu hal penting juga yang menjadi keunggulan, yaitu daya tahannya terhadap  panas, dan tahan terhadap api lebih baik dari  plastik dan kain.

            Linoleum, bahan yang terbuat dari bahan alami yang terukur dan dihasilkan dari sumber daya yang bisa diperbaharui. Terdapat setidaknya enam bahan utama, linseed oil, rasin, woodfloor, limestone, pigment, jute . Linoleum pada produk lantai terbagi menjadi tiga bentuk produk, yakni marmoleum yang menampilkan motif-motif warna dan corak alami, artoleum yang menampilkan corak kayu, dan Walton yang menghasilkan corak-corak yang memiliki tekstur.
            Linoleum yang mudah dibersihkan ini memiliki ketebalan kurang dari 5mm. Panjang satu roll-nya  bisa mencapai 32m dengan lebar sesuai kebutuhan. 

Tempurung Kelapa Sebagai Bahan Lantai

 


Salah satu bagian pohon kelapa yang pada saat ini belum banyak digunakan adalah tempurung kelapa (batok) kelapa. Tempurung kelapa yang banyak dijumpai di pasar-pasar tradisional dari sisa pemecahan buah kelapa saat ini sebagian besar digunakan sebagai bahan bakar. Sebenarnya, tempurung kelapa (atau sisa berupa pecahan-pecahan) dapat ditingkatkan kualitasnya menjadi bahan yang lebih bermanfaat dibanding hanya sebagai bahan bakar saja. Oleh karena itu melalui rekayasa yang tepat, maka tempurung kelapa dapat dibentuk menjadi mozaik ubin bahan bangunan yang antik, unik, alami dan menarik 

SPESIFIKASI TEMPURUNG KELAPA
ü  Mempunyai bentuk asli berupa serat – serat serabut 
ü   Cukup empuk dan hangat 
ü  Bersifat sedikit tembus pandang sehingga terlihat pengisinya
ü  Mampu menyerap panas 
ü  Cukup baik untuk aplikasi akustik (menyerap bunyi karena rongga pada serat)
ü  Tahan air 



PENGOLAHAN TEMPURUNG KELAPA
Tempurung kelapa mempunyai serat yang kasar sehingga dalam proses pembuatannya dapat menghasilkan sebuah proses yang solid dan kemudian untuk lapisan terluarnya dihaluskan agar dapat digunakan sebagai tempat berpijak. Dalam pengolahan serat kelapa tersebut, serat dibersihkan dan direbus di dalam campuran cairan kimia. Hasil rebusan dituang ke dalam sebuah cetakan yang kemudian di press dan didinginkan beberapa hari. Jika telah dingin dan kaku, bahan tempurung (serat) kelapa siap digunakan sebagai bahan (material) lantai. 
PENERAPAN TEMPURUNG KELAPA SEBAGAI LANTAI
Tempurung kelapa yang telah dibersihkan dari serabutnya (berwarna hitam mengkilat) dapat dijadikan ornamen yang sangat menarik. Tidak hanya dapat digunakan sebagai perabot rumah, tetapi dapat ditingkatkan sebagai ornamen lain. Tempurung kelapa juga bisa digunakan untuk hiasan pada lantai parket, gasper, bingkai foto, tempat lampu, arang balok dan talam.
Dengan menggunakan teknologi rekayasa yang tepat (telah dijelaskan diatas), maka serat – serat dari tempurung kelapa ini dapat diolah sebagai bahan dasar lantai.

PEMASANGAN LANTAI TEMPURUNG KELAPA
1. Pada dasar tanah dibuat tulangan lantai seperti biasanya.
2. Lantai tempurung kelapa yang sudah jadi dalam bentuk lembaran, dipasang pada tulangan tersebut.
3. Karena pada lembaran lantai tersebut sudah terdapat lock-nya, tidak perlu diberi nat pada sela – sela lantai.
4. Jika digunakan untuk ruang yang sering dilewati oleh pengguna, sebaiknya dibentuk menjadi sebuah mozaik agar lebih indah.


KAJIAN PENERAPAN TEMPURUNG KELAPA PADA LANTAI
Tempurung kelapa mempunyai serat yang kasar sehingga dalam proses pembuatannya dapat menghasilkan sebuah proses yang solid dan kemudian untuk lapisan terluarnya dihaluskan agar dapat dipakai untuk tempat berpijak. Bahan ini dapat dikatakan lebih efektif daripada lantai kayu maupun keramik karena lebih mudah didapatkan (banyak terdapat pohon kelapa di Indonesia, dimana setiap pohon dapat menghasilkan banyak tempurung kelapa) sehingga dapat menghemat biaya dan juga mengurangi beban energi yang dikeluarkan untuk menghasilkan produk pabrikan tersebut.
Serat kelapa juga dapat menyerap panas dengan baik sehingga lantai dapat tetap terasa hangat di malam hari (karena panas siang ditahan di dalam serat tempurung kelapa) dan pada siang hari bahan ini menyerap panas ruangan sehingga dapat menurunkan suhu ruangan.
Secara teknis, serat pada tempurung kelapa yang kasar dapat mencegah meresapnya air ke dalam struktur lantai yang dapat mengakibatkan kerusakan pada struktur tersebut. Jika telah dihaluskan, serat kelapa mempunyai lapisan yang cukup baik dalam memantulkan cahaya dan juga dapat menyerap panas dengan baik sehingga lantai dapat tetap merasa hangat di malam hari dan pada siang hari bahan ini menyerap panas ruangan sehingga dapat menurunkan suhu ruangan. 

KELEBIHAN PENERAPAN TEMPURUNG KELAPA PADA LANTAI
ü  Tahan air dan jamur 
ü  Lebih lunak 
ü  Mampu memantulkan cahaya dengan baik 
ü  Mampu menyerap panas ruangan dan melepaskannya lagi mengurangi penggunaan pendingin ruangan di siang hari 

KEKURANGAN PENERAPAN TEMPURUNG KELAPA PADA LANTAI
ü  Cukup rumit dalam pembuatan lantai jenis ini

Onduvilla Atap Ramah Lingkungan

Onduvilla produk impor dari Prancis yang ramah lingkungan karena terbuat dari bahan cellulosa fiber dan bitumen yang menghasilkan atap yang ringan dan berkualitas. Onduvilla satu-satunya produk yang terbuat dari Cellulosa fiber yakni hasil daur ulang material yang menggunakan proses berteknologi tinggi dan ditambah dengan bitumen organik yang menghasilkan atap ramah lingkungan dan aman.
 
Onduvilla memiliki spesifikasi umum panjang 400 mm dan lebar 40 mm dengan tinggi 40 mm, Karena terbuat dari cellulosa fiber, Onduvilla hanya memiliki berat 1,27 kg. Harga pasarannya dipatok Rp 55 ribu per keping. Onduvilla memiliki tiga bubungan dengan ukuran panjang 90 cm dan lebar 50 cm yang tersedia dalam berbagai warna seperti merah, hitam, coklat dan hijau.  Pemasangan Onduvilla dapat dilakukan pada rangka kayu atau baja.
Selain Onduvilla, sebelumnya Onduline juga sudah memasarkan produk Onduline yang diimpor dari Italia. Onduline produk yang juga ramah lingkungan berbentuk gelombang seperti seng.

ü  Aman dan Tidak Berisik
ü  Onduvilla ringan kurang dari 4 kg/meter persegi
ü  bebas dari asbes dan racun kimia lainnya
ü  Meredam suara ketika hujan dan meredam panas ketika suhu naik sehingga penghuni rumah merasa sejuk
ü  Tahan terpaan angin sampai dengan kecepatan 192 km/h
ü  Kuat, mudah dan efisien dalam transportasi
ü  Banyak digunakan di gedung-gedung, rumah dan perkantoran

 

Bambu Sebagai Tulangan Dinding


Bambu merupakan salah satu komoditas utama di Indonesia, yang biasanya digunakan bahan untuk ornamen, kerajinan tangan, dan juga mebel. Namun, dengan penerapan rekayasa – rekayasa ilmiah, bambu dapat berfungsi sebagai bahan dasar dan utama dalam mendirikan sebuah bangunan. 
SPESIFIKASI BAMBU
1. Mempunyai daya lentur yang tinggi 
2. Tahan panas dan tidak mudah terbakar 
3. Mempunyai ukuran yang berbeda – beda sehingga mampu disesuaikan dengan kebutuhan 
4. Tumbuh cepat, sehingga tidak mengganggu ekosistem lingkungan 
5. Tidak mengandung racun, karena langsung diambil dari alam 
PENGOLAHAN BAMBU
Sebelum digunakan sebagai bahan bangunan (khususnya untuk nbahan dasar konstruktif atau structural) bambu sebelumya direndam dalam cairan kimia (campuran antara air dan formalin) selama 14 hari sebagai cara untuk mengawetkan dan membuat bambu anti serangga dan juga tahan lama.kemudian bambu dikeringkan di suhu yang cukup tinggi yaitu >350 C untuk menghilangakan efek racun yang mungkin terdapat pada cairan kimia tersebut. 
Bambu dapat dikatakan hemat energi karena waktu serta biaya pemasangan (penerapan di lapangan) yang relatif murah dan singkat dibanding dinding dengan bahan dasar beton bertulang. Selain itu ketersediaan bambu di indonesia cukup melimpah dan ramah lingkungan karena dapat di daur ulang, dan perawatannya relatif mudah.

PENERAPAN BAMBU SEBAGAI DINDING
Bambu biasa kita lihat sebagai ornament yang ditempelkan pada dinding, dan biasa digunakan sebagi dinding dengan menggunakan ikatan – ikatan pada ujung – ujungnya. Namun kali ini yang akan dibahas adalah bambu sebagai pengganti dinding beton melalui sebuah teknologi rekayasa.


PEMASANGAN DINDING BAMBU
1. Antara kolom dengan kolom diberi tulangan – tulangan besi seperti biasa 
2. Masukkan bambu dengan diameter 10mm – 12mm kedalam tulangan tersebut 
3. Kemudian tulangan tersebut di cor beton 
4. Dapat ditambahkan anyaman bambu terlebih dahulu di dalam cor - coran 
5. Diplester / di aci sesuai keinginan atau diekspose begitu saja

KAJIAN PENERAPAN BAMBU PADA DINDING
Penggunaan bambu maupun anyaman bambu (gedhek) cukup familiar bagi kita, bisa digunakan untuk dinding dalam maupun luar. Biasanya untuk anyaman bambu digunakan bambu bagian kulitnya, sebab ia cukup kuat terhadap cuaca, dan teksturnya bagus (licin dan mengkilap). Dengan kelenturan yang dimiliki bambu maka dinding rumah akan lebih tahan terhadap gaya – gaya horizontal seperti angin, gempa, dan gaya – gaya horizontal lainnya. Dengan adanya bambu didalam cor – coran beton, maka volume beton yang digunakan akan berkurang dan menghemat biaya dan jumlah semen yang digunakan. Racun yang mungin terdapat di dalam semen dapat terhalangi oleh adanya anyaman bambu. 
Bambu mampu mengendalikan suhu lebih baik dibandingkan dengan beton leh karena itu penggunaan bambu tanpa beton dapat lebih mengoptimalkan suhu didalam ruangan namun tidak memiliki kekuatan sekuat bambu beton.

KELEBIHAN PENERAPAN BAMBU PADA DINDING
ü  Mampu menstabilkan suhu 
ü  Meredam suara / kebisingan 
ü  Tidak mengandung racun 
ü  Mengurangi konsumsi semen 
ü  Mampu menahan getaran gempa dengan baik 
ü  Menahan kerusakan (retak rambut) pada dinding 

KEKURANGAN PENERAPAN BAMBU PADA DINDING
ü  Bambu mempunyai ukuran yang tidak sama persis, sehingga kemungkinan kekuatan di satu titik dan titik lainnya berbeda 
ü  Dalam pengolahannya (sebelum diaplikasikan) butuh waktu yang lama 
ü  Tidak mampu menahan beban vertical dengan baik

 

 

Dinginkan Atap, Sejukkan Bumi

Dr. Art Rosenfeld, ilmuwan dari Lawrence Berkeley National Laboratory menemukan solusi untuk mengatasi panas tinggi yang selalu memanggang penduduk dan pengunjung kota-kota di dunia saat musim panas.
Konsepnya berawal dari suhu permukaan. Pada dasarnya, permukaan yang gelap, seperti aspal dan acuan semen menyerap radiasi cahaya matahari dalam jumlah besar. Jika tidak ada bantuan efek pendinginan dari pepohonan yang teduh dan rindang, wilayah yang ditutupi oleh aspal di perkotaan akan menjadi layaknya tempat penampungan dan penyerapan panas raksasa.
Akibatnya, saat tengah hari, suhu di perkotaan bisa mencapai 10 derajat lebih tinggi dibanding wilayah-wilayah di sekitarnya. Fenomena ini oleh Dr Rosenfeld disebut dengan “efek pulau panas atau heat island effect.”
Solusinya, menurut Dr. Rosenfeld bisa dimulai dari atap. Jika Anda mengecat atap Anda dengan warna putih sebagai ganti warna hitam, sinar matahari akan dipantulkan kembali ke angkasa, tidak disimpan di dalam bangunan. Hal itu karena permukaan berwarna putih memiliki tingkat “albedo” (daya refleksi) yang lebih tinggi dibanding permukaan yang berwarna hitam.
Masyarakat di wilayah Mediterania telah mengetahui konsep ini selama berabad-abad. Hal ini bisa kita lihat dari desain kota-kota kuno di perbukitan Yunani. Saat ini, atap-atap bangunan di wilayah perkotaan mewakili 20% dari total wilayah permukaan. Jika semua atap di perkotaan berwarna putih, suhu di perkotaan bisa dikurangi hingga 1-1.5 derajat.
Bagi kota metropolis modern, memutihkan atap memiliki banyak manfaat. Pertama, suhu permukaan yang lebih rendah akan membuat kota lebih nyaman dan aman untuk ditinggali – baik di dalam ruangan maupun di lingkungan sekitar. Saat kota Chicago di AS dilanda gelombang panas pada 1995, 739 orang meninggal dunia. Sebagian besar korban berasal dari mereka yang tinggal di bangunan-bangunan yang beratap hitam.
Kedua, atap yang lebih dingin bisa mengurangi jumlah energi yang dibutuhkan untuk mendinginkan ruangan. Dengan mengubah atap menjadi putih, pemilik gedung dan penghuninya bisa menghemat biaya listrik hingga 15%.
Yang terakhir, atap yang lebih dingin bisa mengurangi efek perubahan iklim. Selain secara langsung mengurangi emisi karbon melalui penghematan energi, efek “albedo” dari atap putih bisa mencegah terperangkapnya panas yang akan meningkatkan efek rumah kaca dan pemanasan global.
Penelitian Dr. Rosenfeld menemukan, jika seluruh atap bangunan di perkotaan dicat warna putih, upaya itu akan bisa mengurangi emisi karbon sebesar 24 juta ton. Hal ini setara dengan menyingkirkan 300 juta mobil dari jalanan setiap tahun selama 20 tahun!
Nilai tambah lain proses pendinginan atap ini bisa dikombinasikan dengan sel-sel energi dan pemanas bertenaga surya.
High Desert Government Center di California, telah menerapkan konsep ini sehingga mampu memenuhi 70% kebutuhan energi gedung tersebut dari tenaga surya. Anda juga bisa memanfaatkan atap sebagai lahan berkebun. Walau tidak memiliki efek pendinginan sebesar atap yang berwarna putih namun konsep tersebut mampu mengurangi suhu wilayah dan menjadi sumber bahan pangan bagi penduduk lokal.



No comments:

Post a Comment

Semoga Artikell Kami Bermanfaat,,,,,,,,,, Jagan Lupa Langganan dan Membagikan,,,,,,,,,!