BAB II
TINJAUAN UMUM PERKANTORAN SEWA
A. TINJAUAN KANTOR SEWA
1. Pengertian Kantor Sewa
Menurut Cyrill M. Haris dalam bukunya Dictionary of
Architecture and Construction, kantor berarti bangunan yang digunakan untuk
tujuan profesional ataupun administrasi dan tidak ada bagian yang dipergunakan
untuk keperluan hunian, kecuali oleh para penjaga dan pemberasih kantor.
Kantor sewa dapat diartikan sebagai kantor yang disewakan
oleh pengelola terhadap pengguna (user) yang digunakan untuk menampung segala
bentuk yang bersifat administratif dan komersil dengan menyewakan ruang-ruang
yang telah disediakan oleh pihak pengelola baik berupa ruangan terkecil (modul
terkecil) dari sebuah ruangan kantor sewa hingga disewa perlantai (modul
terbesar) dari suatu ruangan kantor sewa yang disewa dalam jangka waktu
tertentu pula sesuai dengan kesepakatan antara pihak pengelola dengan pihak
penyewa (user).
Bangunan perkantoran selain dibangun untuk memenuhi
seragam kebutuhan maupun tuntutan yang berlaku umum, juga dimaksudkan untuk dapat
menarik sebanyak mungkin peminat dari segala lapisan yang membutuhkannya.
Keadaan akan tuntutan ini mendorong munculnya perbedaan-perbedaan dalam bentuk
bangunannya.
Secara teoritis
tidak boleh ada perbedaan karena untuk semua rancangan perkantoran pada
dasarnya memiliki prinsip dasar yang sama yakni perubahan
bentuk suatu organisasi berubah lebih
cepat dibandingkan perubahan bangunannya
sendiri.
Untuk
bertahun-tahun terakhir terdapat dua pola pengembangan dasar dalam
bangunan-bangunan perkantoran, yakni pertama, ditandai dengan mengurangi
sekaligus sebagai bentuk rancangan penunjang untuk jangka waktu pemakaian
singkat saja, terutama yang berbentuk perabotan yang dapat dimanfaatkan untuk
berbagai fungsi, sehingga pemisahan antara instalasi pelayanan teknis, baik
secara pandangan dan akustik, maupun yang befungsi dekoratif secara teratur
dapat disesuaikan dengan perabotan sekaligus. Kedua, ditandai dengan adanya
kesulitan memilah fungsi aktifitas sampingannya seperti laboratorium, proses
suatu industri, pendidikan.
2. Fungsi dan Tuntutan
Kantor sewa bertujuan untuk menampung kegiatan
administratif sebuah badan usaha ataupun perorangan baik berupa pelayanan jasa,
penjualan secara makro dengan menggunakan list, penyimpanan uang(pengawasan
keuangan), mencatat keterangan, menjamin aktiva-aktiva dan lainnya.
Tuntutan perancangan dari sebuah kantor sewa dapat
dilihat dari:
ü Pengelola
Motivasi pengelola adalah untuk mencari keuntungan
sebesar-besarnya dengan cara menyediakan tempat / ruang ataupun bangunan yang
difungsikan sebagai kantor dengan strandar dan ukuran tertentu sesuai dengan
modul – modul yang telah ditetapkan dan dapat disewakan seluas-luasnya. Yang
perlu diperhatikan dalam perancangan kantor sewa adalah :
-
luasan lantai
-
efisiensi energi
-
sistem informasi
-
sistem komunikasi
-
sistem utilitas
-
fasilitas eksekutif
-
tempat makan dan sosialisasi
-
standby listrik
ü Penyewa
Sesuai dengan aktivitasnya sebagai penyewa, maka yang
diinginkan oleh penyewa adalah :
-
Penampilan bangunan yang memiliki nilai estetik dan representatif
. Hal ini sangat dibutuhkan sebagai bukti dan untuk memberikan rasa kepercayaan
terhadap penyewa untuk menghadapi klien-klien dari masing-masing penyewa.
-
Suasana kerja yang nyaman yang diciptakan untuk
meningkatkan produktifitas kerja hingga mampu mendorong kemajuan kantor.
-
Fleksibilitas dari modul ruang yang disewakan sesuai
dengan tingkat kebutuhan penyewa sesuai dengan jumlah pegawai, jenis kantor dan
aktivitas yang berlangsung serta asumsi kebutuhan luas kantor yang selalu
berubah sesuai dengan tingkat kemajuan perusahaan.
-
Para penyewa tidak perlu mengeluarkan biya ulang untuk
maintenance bangunan
-
Tingkat keamanan dan keselamatan
3. Spesifikasi Kantor Sewa
Spesifikasi kantor sewa dapat digolongkan berdasarkan
kegiatan yang terjadi dikantor sewa tersebut, diantaranya :
a.
Berdasarkan Bentuk Usaha Penyewa
ü Kantor sewa yang
usahanya sejenis (single use building)
Adalah
kantor sewa yang terdiri dari sejumlah perwakilan kantor-kantor yang menyewa
yang terdiri dari satu jenis usaha dan memilikiu keterkaitan satu sama lain.
ü Kantor Usaha yang
usahanya berbagai macam / campuran (mixed use building)
Adalah
kantor sewa dimana kantor yang menyewa terdiri dari berbagai macam jenis usaha
(usaha campuran) dan murni bersifat bisnis dan tidak ada ikatan satu dengan lainnya.
b.
Berdasarkan Sistem Kepemilikan
ü Kelompok Kantor
Pemerintah
ü Kelompok kantor
Non Pemerintah / Swasta
c.
Berdasarkan Jenis Usaha Penyewa
ü Accountant
ü Banking
ü Consultant
ü Publishing
ü Manufacture
ü Trade Assosiation
ü Financial
ü Advertising
d.
Berdasarkan Tingkat Usaha Penyewa
ü Kantor Pusat
(head office)
ü Kantor Cabang
(branch office)
ü Kantor Perwakilan
(liason representative office)
e.
Berdasarkan Status Kepemilikan
ü Kantor yang
disewakan
Kantor
sewa jenis ini memberikan keleluasaan bagi pengguna (user) untuk menyewa sesuai
dengan kebutuhan yang diperlukan berdasarkan besar dan jenis usaha sesuai
dengan kemampuan penyewaannya.
ü Kantor yang
disewa-belikan
Kantor sewa jenis ini adalah kantor sewa yang dapat
dimiliki oleh penyewanya (user) apabila ada perjanjian pembelian bangunan
dengan cara mengangsur sesuai dengan perjanjian yang dibuat antar pihak
pengelola dengan penyewa (user).

Gambar 1: Diagram
klasifikasi gedung perkantoran
4. Sistem Penyewaan
Yang menjadi dasar pertimbangan dalam sistem penyewaan
pada kantor sewa adalah :
a.
Sistem Penyewaan Ruang
1)
Sistem area terbuka
Ruang-ruang yang disewakan adalah merupakan ruang-ruang
terbuka yang dalam pembagiannya bergantung pada permintaan penyewa (user )
sesuai dengan kebutuhan ruang yang diinginkan.
2)
Sistem area terbagi
Ruang-ruang yang disewakan adalah ruang-ruang kecil yang
telah terbagi dari ruang besar dalam satu lantai sesuai dengan modul unit
terkecil dari kantor sewa.
3)
Sistem gabungan
Adalah gabungan dari kedua sistem diatas dimana hal ini
digunakan dalam upaya mengoptimalkan guna lahan bangunan dan guna ruangan
sesuai dengan tingkat kebutuhan penyewa (user). Misalnya pada lantai 1-4
digunakan sistem area terbuka dan pada lantai diatasnya digunakan sistem area
terbagi.
b.
Jangka Waktu Penyewaan
Jangka waktu penyewaan ruang (kontrak) pada sebuah
bangunan diatur dan ditentukan pihak pengelola dan disetujui pleh pihak penyewa
(user).
Jangka waktu penyewaan ruang pada suatu bangunan dapat
dibagi atas :
1)
Sewa jangka panjang
Sewa
kontrak jangka panjang ditentukan oleh pihak pengelola yang biasanya berjangka
tahunan.
2)
Sewa jangka pendek
Sewa
kontrak jangka pendek ditetapkan oleh pihak pengelola dengan jangka waktu
hitungan bulan sesuai dengan perjanjian dengan pihak penyewa (user).
c.
Luasan Unit yang disewakan
Luasan unit yang
disewakan pada sistem penyewaan ruang terbagi atas :
1)
Berdasarkan pada satuan / modul unit terkecil yang telah
ditetapkan oleh pihak pengelola.
2)
Berdasarkan pada kelipatan modul unit terkecil yang
dibutuhkan oleh pihak penyewa sesuai kebituhannya.
3)
Berdasarkan pada penyewaan perlantai.
5. Fungsi
Perkantoran atau yang disebut pula dengan kantor sewa
adalah merupakan sarana perdagangan jasa dimana didalamnya terdapat
lembaga-lembaga yang bergerak dibidang pelayanan jasa (kantor, toko, retail)
yang dikelola secara komersial. Pada dasarnya bentuk-bentuk pelayanan jasa yang
ada dapat berupa pelayan jasa pengacara hukum, jasa konsultan arsitektur, jasa
manufacture, jasa konsultan finansial, fasilitas hiburan, dsb.
Dalam perkembangannya, bangunan ini tumbuh berkembang
sesuai dengan tuntutan masyarakat yang
berkembang saat ini, khususnya dipusat-pusat kota dimana sudah sangat susah
dalam memperoleh lahan yang digunakansebagai tempat usaha yang layak sesuai dengan
peruntukan fungsi bangunan.
Meningkatnya kebutuhan akan fasilitas ruang bagi tiap
pengusaha, kemudahan akses ke semua pendukung / penunjang kemajuan usaha,
tingginya bangkitan arus kendaraan dari dalam menuju kota ataupun sebaliknya
sehingga menimbulkan arus padat lalu lintas serta semakin sulitnya mendapatkan
lahan hingga membuat niali lahan semakin mahal sehingga mendorong untuk membuat
sebuah perkantoran sewa dengan mengelompokkan berbagai jenis kegiatan yang
saling berkaitan satu sama lain.
Beberapa fungsi perkantoran / kantor sewa dapat dilihat
dari beberapa segi diantaranya adalah :
a.
Dari segi ekonomi
Dapat meningkatkan sektor perekonomian baik untuk kota
tersebut, maupun untuk tingkat nasional. Hal ini disebabkan karena terjadinya
adanya bentuk transaksi jasa, distribusi jasa antara pihak pengguna jasa
(konsumen) dengan pihak pemberi jasa.
b.
Dari segi sosial dan politik
Perkantoran adalah sarana fisik yang tumbuh akibat
tuntutan masyarakat akan pemasaran produk jasa maupun barang yang dinilai ideal
sehingga diharapkan mampu meminimaliasi pertumbuhan kios-kios liar sehingga
mudah untuk dikontrol.
c.
Dari segi perkotaan
Akan menambah nilai kota sebagai akibat mendukung
pertumbuhan kota karena adanya bentuk-bentuk transaksi serta menjadi salah satu
elemen pengisi kota yang berfungsi penambah daya tarik kota.
d.
Dari segi komersial
Perkantoran dalam dunia perniagaan memiliki nilai ekonomi
yang bersifat kompetitif dan reperesentatif bagi dunia perdagangan jasa dan
barang.
6. Unsur Pelaku Kegiatan
Kegiatan utama dalam perkantoran / kantor sewa adalah
pelayanan jasa ataupun penjualan barang dengan beberapa bentuk usaha menyangkut
penunjang usahanya.
a.
Pengelola
Pengelola adalah pemilik dari perkantoran / kantor sewa
dimana motivasi dari pengelola adalah mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya
dan mengharapkan agar pemakai menyewa seluruh lantai bangunan.
b.
Penyewa (tenant)
Penyewa adalah yang menyewa ruang-ruang yang telah
disediakan oleh pengelola dimana penyewa mengharapkan agar ruang-ruang / kantor
yang disewa nampak terlihat menarik sehingga mampu menarik minat konsumen untuk
menggunakan jasanya.
c.
Konsumen
Konsumen adalah sebagai target penyewa dimana konsumen
diharapkan menggunakan jasa penyewa dalam penyediaan permintaan pelayanan jasa
ataupun barang.
B. KLASIFIKASI KANTOR SEWA
1. Skala Pelayanan Regional
Perkantoran dengan skala pelayanan regional minimal
memiliki ± 480.000 jiwa dan melayani wilayah perkotaan dimana lokasi berada di
kawasan central bussines distric
(CBD) dan memiliki fasilitas minimal 1 departement store, 1-3 junior
departement store, 1 supermarket, 80-100 toko eceran / retail, perkantoran
komersil, restaurant, fasilitas entertain dan fasilitas jasa, serta fasilitas
parkir.[1]
2. Skala Pelayanan Wilayah
Perkantoran dengan skala pelayanan wilayah terletak pada
daerah distrik kota yaitu berada pada wilayah kecamatan dengan potensi
pendukung ± 120.000 jiwa dengan fasilitas yang dimiliki minimal 20-50 toko dan
biro perkantoran komersial (branch office), fasilitas hiburan dan restaurant.
C. BENTUK USAHA DALAM KANTOR SEWA
Bentuk usaha dalam perkantoran adalah berupa perdagangan
jasa / pelayanan jasa serta barang, diantaranya :
1. Kantor Sewa
Kantor sewa adalah bentuk dari jenis usaha pelayanan jasa
pengelolaan administrasi dimana kantor sewa ini disediakan untuk para pengusaha
dimana rata-rata pengguna perkantoran umumnya bergerak dibidang pelayanan jasa
perbankan serta perusahaan yang berhubungan erat dengan pertokoan.
2. Perdagangan Jasa dan Hiburan
Perdagangan jasa dan fasilitas hiburan dalam perkantoran
adalah bentuk usaha yang digunakan sebagai pemberi daya tarik bagi konsumen
terhadap keberadaan perkantoran tersebut. Jenis pelayanan jasa diantaranya :
-
cinema / bioskop
-
restaurant
-
pujasera
-
fitness centre
-
coffe shop
-
saloon
-
children playground
3. Perdagangan Barang
Perdagangan barang yang terjadi pada sebuah perkantoran
diantara terdapat pada :
a.
Pertokoan
Perkantoran
modern dewasa ini ditambahkan beberapa fungsi diantaranya dengan perbelanjaan
sehingga disebut bangunan multi fungsi. Toko yang berada pada bangunan multi
fungsi ini ±80 – 100 toko, mulai dari shopping
goods sampai specially goods.
b.
Pasar swalayan
Pasar
swalayan adalah bentuk perdagangan barang yang menjual barang-barang kebutuhan
sehari-hari dan beberapa kebutuhan berkala
c.
Departement store
Departement store adalah bentuk perdagangan barang-barang
berkala dan kebutuhan khusus.
D. SISTEM PENYEWAAN RUANG DALAM KANTOR SEWA
1. Sistem Penyewaan Ruang
Sistem penyewaan ruang pada sebuah kantor sewa yang
dilengkapi beberapa fasilitas seperti cinema / bioskop, restaurant, pujasera,
fitness centre, coffe shop, saloon, retail, ataupun beberapa kios untuk
mendukung keberadaan sebuah perkantoran meliputi :
a.
Ruang perkantoran yang disewakan dengan area terbuka
Yang
dimaksud dengan kantor sewa yang disewakan dengan area terbuka adalah ruang
perkantoran yang disewa oleh sebuah perusahaan berdasarkan luas lantai untuk
mndapatkan kebebasan dan fleksibilitas dalam penataan ruangannya sesuai dengan
kebutuhan dan keinginan perusahaan yang mneyewanya, dimana kemungkinan
penyewanya adalah perusahaan yang tergolong besar.
b.
Ruang toko / retail yang disewakan dengan area terbagi
Yang
dimaksud dengan ruang toko / retail yang disewakan dengan luasan area yang
telah terbagi adalah luasan ruang yang telah dibagi berdasarkan unit-unit
terkecil sampai yang terbesar dengan menggunakan dinding pemisah, baik berupa
beton, partisi, ataupun yang lain berdasarkan kebutuhan penyewa dimana
ruangan-ruangan ini dibagi
c.
Ruang yang dipakai bersama dan tidak disewakan
1)
Common Floor Area
Merupakan
area yang digunakan bersama-sama oleh pihak penyewa, akan tetapi tetap
dikenakan biaya kepada seluruh pihak penyewa sesuai perjanjian dengan pihak
pengelola. Area / ruangan tersebut diantaranya adalah hall, lift (area core),
selasar (sirkulasi) dsb.
2)
Service Floor Area
Merupakan
area yang sifatnya berupa pelayanan dan
digunakan secara bersama-sama oleh pihak pengelola, dianataranya adalah :
daerah parkir kendaraan, area sirkulasi vertikal, ruang service engineering,
ruang properti, ruang direksi dsb.
2. Jangka Waktu Sewa dan Kontrak
Jangka sewa kontrak yang diberlakukan pada sebuah kantor
sewa didasarkan pada lamanya waktu penyewaan diatur oleh pihak pengelola /
pemilik sesuai denga perjanjian dengan pihak penyewa. Berdasarkan jangka waktu
kontrak untuk yang area disewakan, dapat dikategorikan :
a.
Kontrak jangka pendek
Kontrak
jangka pendek adalah lamanya waktu penyewaan ruangan yang hanya berlangsung
beberapa bulan dan ruangan-ruangan ini diantaranya exhibition hall, show room,
dsb.
b.
Kontrak jangka panjang
Kontrak
jangka panjang biasanya waktu penyewaan berlaku antara satu tahun hingga
beberapa tahun tergantung perjanjian dengan pihak pengelola. Sewa kontrak
tersebut meliputu rentable area pada perkantoran.
3. Luas Unit yang disewakan
Luasan unit yang disewakan pada sebuah gedung kantor sewa
didasarkan pada :
a.
Penyewaan ruang perlantai yang biasanya dilakukan oleh
perusahaan-perusahaan besar.
b.
Penyewaan ruang dengan kelipatan unit-unit terkecil yang
telah disediakan yang biasanya dilakukan oleh perusahaan kelas menengah.
c.
Penyewaan ruang berdasarkan unit terkecil yang disediakan
oleh pihak pengelola / pemilik bangunan.
E. UNSUR PELAKU DALAM KANTOR SEWA
Beberapa unsur pelaku kegiatan yangberada disebuah kantor
sewa diantaranya adalah :
a.
Pihak pengelola / pemilik
Pihak pengelola / pemilik bangunan kantor sewa tugasnya
adalah mengelola kantor sewa dengan menyediakan beberapa fasilitas-fasilitas
penunjang yang akan memberi nilai tersendiri terhadap keberadaan bangunannya
dan memiliki motivasi bisnis agar ruangan-ruangan yang disewakan pada bangunan
kantor sewanya laku dipihak penyewa.
b.
Pihak penyewa / user
Pihak penyewa menyediakan fasilitas ruang yang lebih
lengkap dan representatif yang akan menjadi daya tarik tersendiri bagi konsumen
untuk menggunakan jasa pelayanan dan penjualan barang sehingga akan mampu untuk
mendapatkan keuntungan perusahaan disamping untuk membiayai penyewaan ruang
pada bangunan kantor sewa.
c.
Pihak pengguna jasa / konsumen
Pihak konsumen adalah pelaku kegiatan yang menggunakan
jasa (membutuhkan pelayanan jasa) dan
perdagangan barang dari pihak penyewa.
F. FUNGSI DAN HUBUNGAN
Keterkaitan antara satu sama lain (pengelola, penyewa
serta konsumen) didasarkan pada adanya persamaan kepentingan dan saling
ketergantungan dalam menunjang aktifitas. Adanya persamaan kepentingan dan
hubungan yang saling mendukung inilah yang menciptakan hubungan erat antar
pelaku kegiatan.ubungan antar pelaku kegiatan ini dapat dilihat sebagai
berikut.
Fungsi pelayanan berdasarkan pada kepentingan
masing-masing aktifitas pelaku dapat diapat dibagi
1.
Aktifitas utama yang dilakukan oleh pelaku adalah
aktifitas perkantoran, baik itu berupa
pekerjaan administrasi, ataupun yang lainnya.
2.
Aktifitas penunjang lainnya berupa kegiatan pelayanan
jasa maupun jual beli barang yang berlangsung di dalam gedung serta opesaional
dan pemeliharaannya.
3.
Aktifitas yang tidak langsung adalah kegiatan yang tidak
langsung menunjang kegiatan utama yaitu model manajemen yang ditangani oleh
pihak-pihak / badan property.
G. MOTIVASI PENGADAAN KANTOR SEWA
Motivasi pengadaan kantor sewa didasarkan pada kebutuhan
akibat perkembangan ekonomi, baik dari ekonomi tingkat daerah maupun di tingkat
pusat, khususnya Kota Makassar sendiri yang berarti akan membutuhkan suatu
wadah / tempat yang cukup representatif disamping keberadaan akomodasi
fasilitas penunjang lainnya, diantaranya :
1.
Bangunan
Bangunan yang representatif (memiliki berbagai fasilitas
penunjang) akan sangat membantu dalam pelaksanaan kegiatan utama dalam suatu
bangunan perkantoran karena memiliki suasana yang nyaman, adanya ketenangan
dalam bekerja serta banyak para penyewa (pengusaha) mencari bangunan yang
representatif sebagai salah satu daya tarik konsumen pengguna jasa karena
memiliki daya saing dan daya jual.
2.
Lokasi
Berdasarkan kepentingan bersama akibat saling
ketergantungan satu sama lain, disamping efisiensi penggunaan energi
(aktifitas) maka para penyewa menginginkan agar lokasi kantornya saling
berdekatan satu sama lain.
3.
Lahan
Harga lahan / tanah yang terus meningkat, ditambah dengan kelangkaan tanah di kota-kota besar,
letak yang strategis yang menjadikan para penyewa (penguasaha) berusaha untuk
menghemat dari sisi ekonomis dengan menyewa dimensi ruang pada sebuah kantor
sewa
4.
Sewa
Faktor finansial pada sebuah badan property / badan usaha
yang mengharuskan mempertimbangkan antara biaya menyewa ruangan disebuah
perkantoran atau mendirikan bangunan, hingga para pengusaha cenderung untuk
memilih menyewa ruangan pada sebuah kantor sewa.
H. FAKTOR PENGARUH DALAM KANTOR SEWA
1. Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat
Kondisi sosial ekonomi masyarakat sangat menentukan dalam
kelayakan sebuah kantor sewa dimana akan mempengaruhi pendapatan daerah, pola
konsumtif serta daya beli masyarakat terhadap produk jasa dan barang, juga akan
menentukan tingkat kebutuhan sebuah perkantoran akibat tingkat kebutuhan
masyarakat serta peningkatan kualitas pelayanan sesuai dengan keberadaan
masyarakat.
2. Kondisi Bidang-bidang Usaha
Keberadaan bidang-bidang usaha dalam kota ataupun luar
kota daerah pelayanan dalam perkembangannya akan mempengaruhi tingkat pengadaan
wadah (kantor sewa) dimana hubungannya berkenaan dengan pemakaian dan tingkat
kebutuhan ruang sesuai kapsitas yang direncanakan.
I. TINJAUAN KOORDINASI MODULAR PADA BANGUNAN BERTINGKAT
TINGGI
1. Pengertian Modulasi
Banyak bangunan tinggi diberbagai macam kota menggunakan
pola-pola yang yang berulang. Penggunaan pola-pola yang berulang ini untuk
lebih mengefisiensikan, memudahkan serta lebih kepada memperhitungkan kekuatan
struktur bangunan sebagai penopang pada bangunan tinggi. Penggunaan pola-pola
yang berulang ini disebut pula dengan modul pada bangunan. Jadi yang dimaksud
dengan modul adalah satuan metrik yang menggunakan pola berulang dan beraturan.
Modul inilah yang biasanya dijadikan patokan ukuran dalam pembangunan suatu
gedung, apalagi pada bangunan bertingkat tinggi.
Sedangkan yang dimaksud dengan sistem koordinasi modulasr
adalah suatu sistem dimensional yang bertujuan untuk menyederhanakan dan
memberikan batas variabel dimensi dari suatu bangunan dengan prinsip
menggunakan unit terkecil ukuran / luasan yang dapat mengkoordinasikan dimensi-dimensi
lain berdasarkan fungsi-fungsi variasi yang lainnya, baik berupa struktur,
konstruksi, ruang dsb.[2]
Penentuan penggunaan modul pada pembangunan biasanya
dipertimbangkan pada fungsi bangunan, material bangunan yang digunakan, perabot
yang digunakan dalam bangunan, aktifitas serta perilaku orang (pelaku),
kecenderungan penggunaan kekuatan / daya tahan struktur pada bangunan, baik
tahan terhadap gaya tekan yang mengakibatkan lendutan ataupun gaya tarik yang
mengakibatkan patahan. Oleh karenanya penggunaan modul yang tepat merupakan
slah satu langkah yang cermat untuk mengefektifkan dan mengefisiensikan
bangunan.
2. Tujuan Penggunaan Modulasi
Tujuan utama dari penentuan dan penggunaan modul yang
tepat pada bangunan, khususnya pada bangunan tinggi adalah :
a)
Mengefisiensikan dan mengefektifkan luasan bangunan yang
terbangun dan terpakai, utamanya pada kantor sewa
b)
Menciptakan fleksibilitas yang tinggi terhadap bangunan
karena telah memiliki luasan ruangan yang terkecil sesuai dengan modul terkecil
yang ada untuk suatu ruangan.
c)
Memudahkan dalam pembangunan karena telah memiliki
jarak-jarak tertentu yang berulang sehingga memudahkan dalam pengerjaan dan
perhitungan.
d)
Lebih mempertimbangkan keberadaan pengguna (manusiawi)
karena adanya pertimbangan aktifitas yang dilakukan baik dalam bangunan maupun
di luar bangunan.
e)
Penggunaan perabot yang terpilih dalam suatu ruangan yang
harus disesuaikan dengan pola aktifitas serta besaran ruangan yang ada sesuai
dengan modul ruangan yang tercipta.
f)
Lebih menghemat terhadap pemakaian bahan / material
bangunan karena pada material-material yang digunakan pada dasarnya disesuaikan
dengan modul umum yang terpakai.
g)
Disesuaikan dengan kemampuan analisis struktur bangunan
yang dipakai dalam pembangunan suatu gedung.
h)
Modul ditentukan berdasarkan pada besaran ruang yang
diinginkan sesuai dengan kebutuhan ruang dan fungsi bangunan.
3. Modul Perilaku
Modul perilaku didasarkan pada gerak aktifitas yang
dilakukan oleh pengguna bangunan. Beberapa modul perilaku yang didasarkan pada
gerak aktifitas pengguna bangunan / user
dapat dicontohkan, diantaranya adalah :

Gambar 2 : Modul
gerak manusia pada sebuah perkantoran
Sumber : Data
Arsitek, jilid I, hal 12
4. Modul Perabot
Perabot merupakan salah satu elemen pengisi ruangan yang
sangat mempengaruhi tingkat kenyamanan pemakaian sebuah ruangan. Kadang kala
perabot juga digunakan sebagai elemen estetik, disamping digunakan sesuai
dengan fungsinya.
Dalam suatu desain bangunan, perabot juga berperan
didalam penentuan modul yang akan digunakan perancangan. Hal ini disebabkan
dimensi dari perabot yang digunakan akan mempengaruhi tingkat efektifitas dan
kenyamanan sebuah ruangan. Ini dapat dicontohkan, apabila dalam sebuah ruang
rapat dikantor menggunakan sofa sebagai alat duduk, maka yang terjadi adalah
adanya kenyamanan yang dirasakan apabila duduk, akan tetapi tidak adanya
keleluasan dalam bergerak apabila melakukan aktifitas, misalnya berdiri untuk
mempresentasikan pekerjaannya. Dari contoh ini, dengan jelas kita dapat melihat
bahwa fungsi perabot akan mempengaruhi besaran / dimensi perabot yang berarti
pula akan mempengaruhi besaran ruangan, dan ini berdampak pada penggunaan modul
dalam mendesain suatu bangunan.
Beberapa modul perabot yang digunakan dalam sebuah kantor
sewa, diantaranya :

Gambar 3 : Beberapa
jenis perabot yang memiliki besaran tertentu
Sumber : Data
Arsitek, jilid II, hal 20
5. Modul Bahan / Material
Modul bahan / material adalah modul yang didasarkan pada
bahan / material yang telah ada, baik material yang diproduksi oleh pabrikan
bahan-bahan bangunan ataupun dalam bentuk pemesanan sesuai dengan yang
diinginkan.
Modul bahan juga sangat mempengaruhi desain suatu
bangunan, utamanya pada bangunan yang difungsikan sebagai kantor sewa, hal
disebabkan dari sisi ekonomis penghematahan material yang digunakan. Semakin
sedikit material yang terbuang dalam suatu pembangunan kantor sewa, maka akan
semakin tinggi nilai ekonomis dan efektif
pembangunan kantor sewa tersebut. Ini juga terkait dengan bagaimanakah
seorang arsitek dapat mendesain bangunan dengan mempertimbangkan modul-modul
dari suatu bahan / material yang telah ada dipasaran.
Umumnya yang sering kita jumpai di lapangan adalah
penggunaan modul material yang menggunakan kelipatan angka 20 cm dan 30 cm
dimana modul ini dibuat untuk mengantisipasi desain bangunan yang dibuat dengan
ukuran yang merupakan kelipatan 20 cm dan 30 cm.
Beberapa contoh modul bahan / material yang dapat dilihat
diantaranya adalah :

Gambar 4
: Material yang digunakan dalam
sebuah perkantoran
6. Modul Fungsi
Sebuah bangunan sangat berpengaruh pada tingkat
efektifitas, efisiensi serta fleksibilitas suatu bangunan. Prinsip dasar sebuah
kantor sewa adalah untuk mencapai tingkatan tersebut. Salah satu yang
mempengaruhi dan paling mendasar adalah fungsi dari sebuah bangunan itu
sendiri. Form follow function adalah salah satu bentuk ungkapan seorang arsitek
yang mengatakan bahwa bentuk tercipta dengan mengikuti fungsibangunan.[3] Bangunan
terkadang kehilangan jati dirinya akibat fungsi bangunan yang tidak jelas dan
tidak tergambar pada desain.

Gambar 5 : Pembagian
modul untuk perkantoran
Sumber : Data
Arsitek, jilid II, hal 16
Penentuan penggunaan modul pada suatu bangunan, utamanya
pada kantor sewa sangat berpengaruh pada beberapa tingkatan yang disebutkan
sebelumnya. Variabel-variabel yang ada seperti aktifitas pelaku, pola hubungan
ruang, material serta perabot yang digunakan, besaran mobil dsb merupakan
bentuk turunan dari keberadaan dari fungsi bangunan itu sendiri. Pada bangunan
yang berfungsi sebagai kantor sewa, penentuan modul untuk mendapatkan unit
terkecil dari sebuah kantor sewa akan memepengaruhi nilai ekonomis bangunan.
Unit terkecil dari sebuah ruangan kantor sewa inilah
nantinya yang akan menjadi pengontrol dari dimensi lainnya, baik ke arah
horizontal maupun ke arah vertikal bangunan, serta menjadi patokan dalam
menyewakan suatu luasan dalam sebuah bangunan kantor sewa. Untuk modul fungsi
ke arah horizontal biasanya menggunakan ukuran / dimensi kelipatan dasar 20 cm
dan 30 cm, misalnya : 200 cm, 300 cm, 360 cm, 500 cm, 600 cm, 660 cm, 720 cm,
800 cmm, 810 cm dst. Sedangkan untuk modul vertikal, perhitungan jarak antar
modul didasarkan paralatan dan perabotan vertikal yang digunakan dalam bangunan
dengan menggunakan jarak jangkauan maksimal, dengan memperhitungkan pula sistem
utilitas, plafon, kenyamanan dsb.
7. Modul Struktur
Modul struktur ditentukan berdasarkan prioritas
kebutuhan, fungsi serta sifat / perilaku struktur yang disesuaikan pada
bangunan. Sistem struktur yang digunakan sangat berperan dalam menentukan
jarak-jarak modul yang digunakan, misalnya : dengan menggunakan sistem struktur
rangka dengan modul struktur yang berjarak 600 cm, 720 cm, 800 cm, 810, 840 cm
dimana jarak-jarak ini merupakan jarak kolom yang efektif agar mengurangi terjadi
lendutan akibat momen besar yang ditimbulkan oleh beban yang dipikul oleh
bangunan.
Penggunaan jarak modul terhadap sistem struktur yang
digunakan pada suatu bangunan sangat
penting diperhitungkan karena disamping mempengaruhi kekuatan dari bangunan itu
sendiri juga merupakan modul yang diharapkan mampu memiliki fleksibilitas yang
tinggi terhadap fungsi ruangan itu sendiri utamnya untuk sebuah kantor sewa.
Penggunaan jarak modul terhadap sistem struktur dapat dapat
dicontohkan sebagai berikut :

Gambar 6
: Salah satu modul di sebuah perkantoran dengan penyesuaian antara modul
struktur, fungsi, perabot
Sumber
: Data Arsitek, jilid III, hal 28
a) Core
Core adalah inti bangunan yang berfungsi sebagai rangka
utama pada bangunan berlantai banyak (bangunan
tinggi). Selain sebagai fungsi struktural, core juga berpengaruh pada suhu
dalam bangunan, bentuk penampilan bangunan, serta memberikan bentuk fasade
bangunan apabila core terletak disisi bangunan (pada bagian luar).
Penempatan dan ukuran dari inti (core) dalam suatu bangunan bertingkat
sebagian besar diatur dengan pertimbangan yang meliputi kebutuhan pokok
peraturan fire-egress, menuju
keberhasilan dan bentuk efisiensi dasar di (dalam) pergerakan manusia, dan
menciptakan suatu tata ruang internal efisien. Tata ruang pada gilirannya,
perlu melayani untuk memaksimalkan kembalian dan untuk mencukupi kebutuhan
pengangkutan vertikal dan dengan menggunakan shaft-shaft pada vertical untuk
keperluan tertentu.[4]
Untuk perletakan core pada bangunan tinggi dapat dibagi
dalam 3 tipe, diantaranya:
ü Single side core
adalah core tunggal yang berada diletakkan pada salah satu sisi bangunan.
ü Double side core
adalah core ganda yang diletakkan pada kedua sis bangunan yang saling
berhadapan.
ü Central core
adalah core tunggal yang berada di pusat bangunan sekaligus sebagai inti rangka
bangunan.
Konfigurasi shaft pada core bangunan sangat
diutamakan untuk mendapatkan efisiensi dan efektifitas. Di dalam menentukan
bentuk wujud internal dari inti bangunan
(core), salah satu dari yang perlu dipertimbangkan adalah untuk area mana
pengangkutan vertikal akan diberikan di dalam bangunan. Suatu bangunan
bertingkat memerlukan satu set elevator dan oleh karena itu suatu konsultan
spesialis elevator ikut dalam mendesain bangunan.
Gambar 7 : Konfigurasi dasar core pada
highrise building
Sumber : Ken Yang, Bioclimatic Skyscrapers
Arsitek akan melihat kebutuhan elevator dan
akan menggolongkan serta mengatur antara shaft-shaft dalam core serta elevator
sesuai dengan kebutuhan bangunan, termasuk lift untuk orang-orang, lift barang,
shaft api, shaft plumbing dsb untuk jalur transportasi vertikal.[5]
Pada bangunan yang terletak di iklim tropis, penggunaan
core akan sangat bermanfaat apabila diletakkan pada sisi barat dan timur dari
bangunan karena digunakan sebagai pelindung radiasi matahari sehingga
meminimalkan penggunaan AC secara berlebihan, disamping karena struktur dan
material dari core yang lebih tahan terhadap perubahan cuaca iklim tropis yang
berfluktuasi.
b) Dinding dan Kolom
Dinding pada bangunan bertingkat tinggi selain sebagai
pelindung dari radiasi sinar matahari dan pembentuk bangunan juga digunakan
sebagai penampang daerah tangkapan sinar matahari yang digunakan untuk
melekatnya panel pengumpul sinar matahari yang diubah menjadi energi listrik
dengan menggunakan alat panel solar sel fotovoltage.
Dinding ini dapat menggunakan material kaca ataupun
berupa yang lain dimana dapat memberikan penerangan alami secara maksimal
sehingga mengurangi energi penerangan secara motorik, sedangkan kolom merupakan
bentuk dari pembagian modul yang telah diperkirakan mampu untuk menciptakan
ruang yang fleksibel sesuai dengan kebutuhan ruang dan standar gerak manusia /
pelaku kegiatan.
c) Material
Pemilihan material menjadi salah satu hal yang terpenting
dalam mendesain sebuah bangunan tinggi, utamanya bila menggunakan konsep
“bangunan pintar”. Penggunaan material-material yang dilengkapi dengan pengubah
energi matahari menjadi energi listrik ataupun yang lain diharapkan mampu
mengurangi penggunaan energi buatan yang tak tergantikan, penggunaan recycling
material serta material yang bersifat alami menjadi salah satu aspek pemilihan
pada pembangunan dewasa ini.
Kerangka struktural bangunan
terdiri atas beton: suatu unsur kumpulan [sulit/keras] buat dari semen,
limau/kapur perekat, menghancurkan batu karang atau pasir, air, dan zat
additive lain. Perilaku beton memiliki kekuatan luar biasa di apabila mengalami
gaya tekan, tetapi tidak dengan baik diberikan tegangan tarik akan sangat
berpengaruh terhadap konstruksi bangunan, oleh karenanya beton diperkuat dengan
batang-baja yang berfungsi untuk memperkuat gaya tarik pada bangunan.[6]
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pemilihan material
yang akan digunakan dalam pembangunan bangunan tinggi adalah :
ü Mampu bertahan
lama terhadap pengaruh lingkungan setempat, dimana dapat berupa : iklim, cuaca,
kelembaban, angin, hujan, panas matahari, air asin, dsb.
ü Mudah dalam
pengerjaan dilapangan dan mudah dalam perawatan (maintenance).
ü Material mudah
didapat di sekitar lokasi pembangunan (dilapangan), mudah tergantikan (mudah
diperbaharui).
ü Penggunaan
teknologi yang mudah diterapkan oleh para pekerja setempat (lokal).
ü Tahan terhadap
tumbuhan dan hewan perusak
ü Warna, sifat dan
kerapatan bahan serta penggunaan dalam bangunan.
Penggunaan “kaca pintar” merupakan suatu konsep teknologi
mutakhir dengan menggunakan dinding tirai kaca yang menggabungkan penerapan
konsep ekologi bangunan dengan penghematan energi penerangan (ekonomis) dimana
dengan penggunaan kaca pintar ini dapat mengurangi pantulan panas matahari yang
dapat menyebabkan efek rumah kaca (green
house effect) pada bangunan tinggi, mampu mengurangi efek panas yang
menyebabkan meningkatnya temperatur lingkungan perkotaan (heat island effect)
serta mengurangi pemanasan global pada bumi. Disamping itu juga ia mampu untuk
mereduksi penggunaan energi yang dipakai untuk sistem tata udara dengan cara
mengeliminir beban pendingian eksternal.
Kemampuan beradaptasi dengan pergantian cuaca dan cahaya
matahari secara otomatis pada bangunan yang menggunakan fasade kaca pintar akan
mengurangi pemakaian energi yang tak terbarui serta akan memiliki kegunaan yang
sangat besar dan penting dalam melindungi lingkungan global kita.[7]

Gambar 8 : Salah
satu bangunan yang menggunakan kaca sebagai elemen dinding yang memanfaatkan
sinar matahari sebagai penerangan alami
Sumber : Internet, situs Architecture.com
Penggunaan dinding curtain
wall (non structure glaas wall) pada dinding bangunan pada high rise
building akan memberikan efek window wall dimana diharapkan dengan pemasangan
curtain wall akan memberikan pemanfaatan penghematan energi surya yang cukup
besar terhadap bangunan dengan adanya penerangan secara alamiah. Pada
pemasangan curtain wall terbagi atas mullion
type dan panel type dimana pada
mullion type, curtain wall dipasang pada bagian mullion sedangkan mullionnya
sendiri dipasang pada plat lantai bangunan, sedangkan pada panel type, rangka
curtain wall dipasang dalam bentuk panel-panel yang melengket pada plat lantai.
Glascade (suspension
glass system) yaitu suatu metode pemasangan dinding kaca yang memungkinkan
pemasangan material kaca yang berukuran tinggi maksimal 49 m dan dalam
pemasangannya digolongkan dalam tiga jenis pemasangan yaitu : glascade F, glascade
SF dan glascade SM.
Pada balustrade SS
system, pemasangan kaca dengan menggunakan sealant pada semua sambungan
sehingga pada pemasangannya nanti sudah tidak menggunakan baut-baut dan pada
bagian pinggir juga dipasang pelindung berupa haindrail yang menggunakan bahan pendukung bulking agent dari
gypsum dan dari karet neoplane.[8]
Tabel 1 : Sifat
kaca bangunan yang berhubungan dengan efek radiasi sinar matahari[9] :
Jenis kaca
|
pantulan
|
penyerapan
|
Meneruskan sinar
|
Tembusan panas
|
Tembusan cahaya
|
Kaca bening 3mmm kaca tuangan
|
7%
|
8%
|
85%
|
87%
|
90%
|
Kaca terapung 6mm
|
8%
|
12%
|
80%
|
84%
|
87%
|
Kaca berwarna hijau 3mm
|
6%
|
31%
|
63%
|
71%
|
85%
|
Jenis kaca
|
pantulan
|
penyerapan
|
Meneruskan sinar
|
Tembusan panas
|
Tembusan cahaya
|
Kaca kuning sawo 3mm
|
6%
|
40%
|
52%
|
66%
|
58%
|
Kaca berlapis panterap/pantulan panas 6mm kaca abu-abu
|
5%
|
51%
|
44%
|
60%
|
41%
|
Kaca biru hijau 6 mm
|
5%
|
75%
|
20%
|
43%
|
48%
|
Kaca hijau 6 mm
|
6%
|
49%
|
45%
|
60%
|
75%
|
Kaca perunggu 6 mm
|
5%
|
51%
|
44%
|
60%
|
50%
|
Kaca berlapis emas memantulkan panas berlapis
|
47%
|
42%
|
11%
|
25%
|
20%
|
Berlapis sedang
|
33%
|
42%
|
25%
|
41%
|
38%
|
J. STUDI KASUS
1. Gedung BNI 46 Jakarta
Gedung
BNI 46 Jakarta yang terletak di jalan Jenderal Sudirman Kav. 1 Jakarta Pusat
ini merupakan bangunan pertama yang menerapkan sistem bangunan pintar yang ada
di Indonesia. Untuk pemeliharaan sub-sub
sistem di dalamnya agar bisa bekerja secara optimal, maka ditunjuklah PT.
Swadharma Griyasatya selaku anak perusahaan Yayasan Dana Pensiun BNI dalam
mengatur sub-sub sistem tersebut.

Gambar 9 : Gedung
BNI 46 Jakarta yang menerapkan sistem bangunan pintar
Gedung BNI ini terdiri atas 38 lantai yang
diklasifikasikan sebagai bangunan tinggi B dengan tinggi bangunan 132,5 meter,
dan dengan luas total bangunan adalah 75.062 m2.
Konstruksi bangunan gedung BNI ini adalah beton bertulang
dengan dinding tembok atap serta atap beton. Secara fisik, struktur bangunan ini terbagi atas
basement 1 dan 2, lantai utama 1 – 33, serta bagianatap 1 -3. Keseluruhan
lantai bangunan Gedung BNI 46 ini dibagi menjadi 2 zona, yaitu zona bawah
antara lantai basement – lantai 15 dan zona tinggi antara lantai 16 – lantai
33.

Gambar 10 : Sub sistem SBP Gedung
BNI 46 Jakarta
Sumber : Sistem Bangunan Pintar,
edisi revisi, pustaka wira usaha
Pada bagian basement 2 digunakan sebagai tempat parkir, plant jaringan listrik dan sistem HVAC, workshop dan gudang. Pada basement 1
digunakan sebagai tempat parkir, ruang kontrol, divisi teknik, divisi keamanan,
dan divisi housekeeper. Lantai 1 – 33
digunakan sebagai ruangan perkantoran bagi BNI maupun penyewa yang lainnya.
Pada bagian roof 1 dan roof 2 digunakan sebagai tempat building service equipment seperti cooling tower, sedangkan pada roof 3 terdapat hellipad (pendaratan helikopter).
Fungsi dari bangunan Gedung BNI 46 ini adalah sebagai
gedung perkantoran BNI Pusat, namun juga disewakan bagi perusahaan-perusahaan
lain yang berminat. Bangunan ini dirancang
agar menimbulkan kesan BNI yang ramah, modern, agresif, namun konservatif.
Kesan ini ditimbulkan dari keberadaan pintu masuk gedung, lobi lift, dan ruang
perkantorannya. Bangunan ini dirancang pula agar menciptakan lingkungan kerja
yang efisien untuk menciptakan kreativitasbagi pegawainya.
Dalam Bangunan Gedung BNI 46 ini terdapat tiga macam
ruangan yang berkenaan dengan sistem otomasinya perkantorannya, diantaranya
adalah :
a.
Ruang kontrol dan monitor
1)
SCAR (Security
Control Administration Rooom) : tempat mengontrol dan memonitor semua unsur
sistem keamanan didalam maupun diluar bangunan.
2)
BAS (Building
Automation Sistem) : tempat mengontrol dan memonitor semua sub sistem dalam
BAS bangunan Gedung BNI 46.
b. Plant room
1)
Ruang Chiller
dan sistem pendukungnya seperti pompa-pompa.
2)
Ruang trafo yang berfungsi untuk mengubah tegangan masuk
dari sumber PLN yang bertegangan 25 KV menjadi tegangan 380 KV tiga fasa untuk
mesin-mesin dan tegangan 220 V untuk satu fasa untuk peralatan lainnya.
3)
Ruang generator, dimana terdiri empat buah generator caterpillar yang masing-masing
berkapasitas 1,5 MVA untuk memasok listrik bila jaringan listrik yang berasal
dari PLN padam.
c.
Ruang AHU (Air
Handling Unit) yang terletak pada setiap lantai bangunan. Tiap satu lantai
bisa terdiri atas beberapa ruang AHU, tergantung dari luasan lantai yang akan
dipakai sebagai perkantoran.
Bangunan pintar merupakan sebuah konsep yang mempengaruhi
keseluruhan gedung disegala aspek, baik berupa bidang arsitektur, elektrik,
mekanik, interior desain maupun yang lainnya. Penerapan sistem bangunan pintar
pada sebuah gedung merupakan paduan yang komprehensif antara sistem otomasi,
komunikasi dan perencanaan lingkungan agar tercipta bangunan yang kondusif
untuk bekerja secara optimal.
Penerapan sistem bangunan pintar pada gedung BNI 46
Jakarta memperhatikan pendekatan multi disiplin dengan memperhatikan hal-hal
berikut :
a.
Sistem otomasi gedung (building automation system / BAS)
b.
Sistem otomasi perkantoran (office automation system / OA)
c.
Sistem telekomunikasi
d.
Prasarana pembangunan gedung
e.
Perencanaan lingkungan
f.
Desain interior
Berdasarkan sistem konstruksi dan sistem perencanaan
lingkungan, penerapan sistem bangunan pintar pada gedung BNI 46 Jakarta
diarahkan pada tiga hal yang utama yaitu : sistem telekomunikasi, sistem
otomasi perkantoran dan sistem otomasi gedung. Penggabungan dari unsur di atas
menciptakan iklim kerja yang optimal, yaitu :
a.
Sistem perencanaan lingkungan pada gedung BNI
1)
Sistem perencanaan yang fleksibel
ü Rancangan kantor
yang fleksibel
ü Prosedur perencanaan
yang terbagi dalam zona
ü Perencanaan tata
cahaya dan pengkondisian udara yang fleksibel menurut kebutuhan
2)
Sistem mebel kantor
ü Prosedur
rancangan perabot kantor
ü Prosedur
konfigurasi workstation
3)
Sistem perencanaan ergonomis
ü Konfigurasi dan
strategi kontrol pencahayaan otomasi perkantoran
ü Strategi
penggunaan warna dan meningkatkan kehijauan
4)
Sistem perencanaan fasilitas
ü Hall dan lounge
ü Perencanaan area
peristirahatan dan restoran
5)
Sistem perencanaan pemeliharaan
ü Strategi sistem
gedung
ü Strategi pemeliharaan
preventif
ü Prosedur diagnosa
kesalahan
6)
Sistem perencanaan life-cycle
ü Prosedur
perhitungan biaya life-cycle
ü Prosedur evaluasi
efisiensi biaya
7)
Sistem ruangan komunikasi umum
ü Rental intelligent offices
ü Informasi intelligent building
b.
Sistem konstruksi
1)
Konfigurasi LAN
ü Cable shaft
ü Perencanaan ruang
PBX-site dan akomodasi node
2)
Pengkabelan pada lantai bangunan : teknik double layered OA flooring dan floor duct
3)
Pengkabelan pada langit-langit : ceiling dan cable rack wiring
4)
Pengkondisian udara yang fleksibel
5)
Pensaklaran pencahayaan yang fleksibel, kemampuan rezoning tersentralisasi untuk merespon
kebutuhan rancangan
6)
Documnet
conveying : vertical conveyor
7)
Pencahayaan nirsilau : perabot yang sedikit memantulkan
cahaya
8)
Pencegahan interferensi elektromagnetik :
ü Metode pemisahan
kabel
ü Static disharge
ü Pengkabelan
lantai antistatik
c.
Telekomunikasi
1)
Komunikasi satelit
2)
Komunikasi grafis
3)
Video
conferencing dan pesan suara
4)
Surat elektronik
5)
Transfer data digital kecepatan tinggi
6)
Pembuatan rekening penyewa secara otomatis
7)
Sistem telpon in-building
dan PABX
d.
Otomasi perkantoran
1)
Konstruksi LAN
2)
Pemroses teks
3)
Dukungan proses pengambilan keputusan
4)
Manajemen informasi
5)
Pelayanan online
6)
Dukungan perangkat lunak
7)
Dukungan akses database
eksternal
e.
Sistem otomasi gedung
1)
Sistem kontrol gedung, yaitu :
ü Kontrol optimal
terhadap fasilitas pengkondisian udara
ü Kontrol
temperatur secara otomatis
ü Jadal kontrol dan
operasi
ü Kontrol
pertukaran panas total
ü Kontrol elevator
ü Pengawasan
lingkungan gedung dan status fasilitas
ü Pengukuran
konsumsi energi
ü Kontrol jarak
jauh
2)
Sistem otomasi keamanan, yaitu :
ü Kontrol masuk
ü Pengamatan video
ü Kontrol
teleclocking
ü Deteksi
kebakaran, alarm, pemadam, dan kontrol api
ü Kontrol asap dan
evaluasi otomatis
ü Deteksi kebocoran
gas dan alarm
ü Pengawasan
otomatis terhadap fasilitas pencegah kebakaran
ü Respon gempa bumi
ü Respon kegagalan
daya
3)
Sistem penghematan energi, yaitu :
ü Pensaklaran lampu
otomatis
ü Manajemen
konsumsi energi
ü Kontrol
pengkondisian udara otomatis dalam zone kecil
ü Kontrol sumber
daya listrik
ü Kontrol respon
sensor pencahayaan siang hari
2. Menara Rajawali Jakarta
a.
Gambaran Umum
1)
Latar Belakang
Gedung ini didirikan dengan memperhatikan keinginan
pemilik gedung yaitu PT.Rajawali
Adiwisma (PT.RAW) salah satu anak
perusahaan dari Rajawali Corporation yang ingin menampilkan suatu konsep
desain gedung yang mengungkapkan perusahannya sebagai burung rajawali yang
kemudian diterapkan pada bentuk bangunan perkantoran. Gedung ini juga akan
menjadi semacam “show case” bagi kelompok usaha Rajawali Corporation.
2)
Lokasi
Gedung perkantoran ini terletak di kawasan antar bangsa
Mega Kuningan yang berada di sisi jalan Prof. Satrio yang akan dijadikan suatu
kawasan orchad roadnya Indonesia. Semua sarana dan kegiatan dari perkantoran,
apartemen, bisnis retail, swalayan, mal, sampai pada warung telekomunikasi akan
hadir di kawasan ini.
3)
Lingkungan / Tataletak
Lahan Menara Rajawali terletak di sisi jalan Prof. Satrio Kawasan Mega
Kuningan seluas 6.200 m2 . Di sisi kiri
dan kanan lahan masih merupakan tanah kosong karena lahan tersebut masih merupakan
daerah pengembangan kawasan bisnis. Dibelakang
lahan didirikan tower dengan podium ditengahnya. Mainentrance ke setiap tower dan podium dipisahkan menurut
fungsi bangunan. Di sisi kiri dan
bangunan dibuat koridor penghubung yang
bisa dimanfaatkan oleh pejalan kaki untuk menuju satu bangunan ke bangunan
lainnya. Lalu lintas di depan bangunan pada jalan Prof. Satrio merupakan sumber
kebisingan terbesar.
4)
Denah / Bentuk Secara Umum
Gedung didesain dengan bentuk persegi yang mengikuti gaya
post modern dan high tech yang tidak hanya dirancang secara estetik, namun juga
ditujukan untuk memaksimalkan elemen-elemen arsitektur agar befungsi efesien
dan efektif . Konsep ruang ditekankan pada fungsi servis bangunan diletakkan di
tengah bangunan (core terpusat).
Massa bangunan terdiri dari satu tower sebagai bangunan
perkantoran dan dua podium yang terdiri dari 5 lantai sebagai tempat parkir,
restoran, dan supermaket.
Bangunan memiliki KLB sebesar 60% dengan total luas
ruangan yang disediakan mencapai 30.950 m2 dan luas ruangan yang disewakan
15.000 m2.
Tampak berbentuk ellips memanjang kebelakang dengan arah
tegak lurus terhadap jalan Prof. Satrio. Dari depan Menara Rajawali terlihat
dua pilar dari bawah kepuncak gunung. Kedua pilar tersebut menggambarkan ekspresi
sayap Rajawali yang siap terbang. Demikian pula bentuk konopi bangunan didesain
sedemikian rupa sehingga memberi kesan paruh rajawali.
5)
Sistem Struktur
Struktur bawah Menara Rajawali menggunakan pondasi bore
pile dengan 16 kolom utama dan 3 core wall untuk lift dan tangga. Pile cap
diantaranya ada yang berukuran khusus dengan panjang 27 m, lebar 12m, dan tebal
2,5 m dengan memakai beton mutu K – 350. Struktur atas bangunan dikerjakan
dengan cara konvensional.
6)
Ornamen
Untuk memberikan kesan megah, maka pada bagian lobby
bangunan desain secara hati-hati. Desain grand lobby tidak menampakkan lift
secara langsung, tetapi pada entrance bangunan ini, para pengunjung disambut
oleh sebidang dinding yang memperlihatkan logo Rajawali Coorporation sedangkan
lift terletak disisi kiri dan kananya.
b.
Sistem Sirkulasi
Pola siskulasi vertikal bangunan ini menggunakan lift.
Terdapat 6 unit lift penumpang dan 1 unit lift barang yang digunakan dari
basement kelantai 25, dan 2 unit lift penumpang yang terletak dibangunan podium
yang digunakan dari ground ploor kelantai 5. Di lantai parkir disediakn 2 unit
lift parkir mobil yang dioperasikan dari lantai semi basement sampai lantai 5.
c.
Sistem Perlengkapan Bangunan
Tenaga listrik disuply dari PLN sebesar 4.000 KVA dan
100% di back-up generator dilengkapi 500 SST yang dapat ditambah sampai 1.000
SST. Supply air bersih diperoleh dari PAM dan sumur dalam 200 liter per menit.
Gedung ini dilengkapi pasilitas telekomunikasi jaringan
serat fiber optik dan juga dilengkapi stasiun tel;ekomunikasi untuk
meningkatkan kedalaman penggunaan telepon genggam di dalam bangunan.
Untuk pengamanan gedung, digunakan fire protection yang
terdiri dari automatic sprinkler system, stand pipe, fire house riser, fire
alarm, sistem smoke dan hit detector, portabel extinguiser, CCTV, sound system
dan public address system.
Untuk kenyamanan suhu ruangan, digunakan AC sentral
berkapasitas 4 x 500 TR dan Variasi Air Volume (VAV) yang terdapat pada lantai
8 – 18.
3. Graha Nusa Kirana Jakarta
a.
Gambar Umum
1)
Latar Belakang
Pembangunan gedung ini dimulai pada tahun 1992 didasarkan
pada tuntutan pihak pemilik yang menginginkan gedung yang mempunyai nilai
tambah dilingkungannya, mengikuti trend mendatang, menjadi landmark kawasan,
namun tetap efisien dan efektif pemakaian ruangannya agar para penyewa dapat
memperluas lantai sewa mereka sewaktu-waktu.
Pihak-pihak
yang terlibat dalam proyek ini adalah :
Developer : PT. Nusa Kirana
Konsultan Perencana :
Developer : PT. Nusa Kirana
Konsultan Perencana :
ü PT. Parama Loka
Consultant (Arsitektur & Koordinator Perencana)
ü PT. Parama Loka
Consultant (Manajemen Konstruksi)
ü PT. Davy Sukamta
& Parteners (Struktur)
ü PT. Arnan Pratama
Consultants (Mekanikal & Elektrikal)
ü PT. Korra
Artabuana (Quantity Surveyor)
Kontraktor
:
ü PT. Pramategak
Beton Indonesia (Pemancangan Tiang Pancang)
ü PT. Hammer Sakti
(Pemancangan Tiang Pancang)
ü PT. Mataram Maju
(Struktur, Arsitektur, Plubing, Fire Fighting)
ü PT. Jaya Teknik
Indonesia (Lift)
ü PT. Trisandira
Kusuma (Elektrikal)
ü PT. Alltra 1978
(Genset)
ü PT. Karya
Intertek Kencana & PT. Waskita Prima Guna (Air Conditioning)
ü PT. Aneka Tara
(Elektrikal)
ü PT. Pola Gondla
Adiperkasa (Gondola)
ü PT. Citro Supra
Jaya (Soft Scape)
2)
Lokasi
Gedung ini terletak dikawasan jalan Yos Sudarso Jakarta
Utara di daerah Kelapa Gading yang merupakan lokasi yang sangat strategis.

Gambar 11: Gedung Graha Nusa Kirana
Sumber : Karya Arsitektur Indonesia
Tampak bangunan
terletak di pojok untuk menciptakan nuansa urban yang didepannya terdapat
struktur yang sangat dominan berupa jalan layang tinggi 10 m lebih. Disekitar
tapak juga terdapat kawasan hunian yang telah dan sedang berkembang seperti
Kelapa Gading Sunter, dan Kemayoran, serta relatif berdekatan dengan pelabuhan TanjungPriok.
Gedung ini dibangun diatas areal seluas 9.340 m2.
3)
Denah / Bentuk secara Umum
Luas total lantai bangunan ini ± 27.000 m2 (gross) atau ±
17.100 m2 (netto), dirancang terdiri dari 14 lantai dan 1 lantai basement.
Massa bangunan berbetuk segiempat dengan bulat dibagian
tengah (konopi), sebagian refleksi site yang terletak dipojok. Pada ketiga sisi
bangunan mendapatkan bidang bukaan.
Fasilitas perparkiran menempati halaman dan basement,
lantai 1 diperuntukkan sebagai kantor pemasaran Graha Nusa Kirana dan bank,
lantai 2 dimanfaatkan sebagai ruang fungtion / prefungtion dan restoran, lantai
3 – 11 diperuntukkan sebagai rental office, sedangkan lantai 12 – 14 dipakai
sebagai kantor pusat Graha Nusa Kirana.
Dengan adanya srtuktur jalan layang maka bangunan dapat
dilihat dari dua tempat, dari bawah dilihat bahwa Gedung tersebut didominasi
kolom-kolom besar dan tinggi yang melambangkan “agung”, sedangkan dari atas
(jalan tol) dapat melahirkan bentuk piramid.
4)
Sistem Struktur
Struktur bawah gedung ini digunakan pondasi tiang pancang
pada kedalaman 16 – 19 m, mencapai tanah keras. Pada bangunan tower digunakan
dimensi 40 x 40 dengan daya dukung 120 ton per tiang dan 35 x 35 dengan daya dukung 90 ton per tiang
untuk daerah podium. Jumlah tiang pancang yang dipakai sekitar 551 titik.
Sistem struktur atas digunakan open frame interaksi
dengan shear wal (core). Pada balok bentang lebar (11 m) dipakai sistem
prestress (one way slab).
Konstruksi pada tahap bangunan dan beton dan pada daerah
tertentu menggunakan rangka baja dengan
penutup metal deck. Untuk struktur lorong kebakaran dibuat hanging (tidak ditopang kolom) di lantai 3
dengan pembensian konvensional. Tebal slab basement 25 cm, begitupula untuk
ketebalan ketiga sisi dinding
basement. Pembesian pada slab
digunakan wire mash U-50
dan pada beam TD-40.
Mutu beton yang
di pakai adalah K-400,
sedangkan untuk kolom dan shear wall dipakai K-500.
5)
Ornamen
Gedung ini
menciptakan landmark dengan membuat menara sudut yang sekaligus berfungsi
sebagai tempat meletakkan logo perusahaan. Pada dinding luar bangunan
menggunakan kaca dan cladding aluminium serta granik. Pada ruang dalam
gedung, lantai pada daerah publik
seperti lobby utama dan hall lift menggunakan granit, sedangkan plafond
menggunakan gypsum board. Untuk toilet menggunakan marmer.
b.
Sistem Sirkulasi
Sirkulasi vertikal dengan gudang ini menggunakan 5 unit
lift penumpang dengan kapasitas 20 orang, dan 1 unit lift executive dengan
kapasitas 11 orang , serta 1 unit lift service dengan kapasitas 1.800 kg/90 mpm
yang sekaligus dapat berfungsi sebagai lift kebakaran.
c.
sistem Perlengkapan Bangunan
Penyelamatan terhadap bahaya kebakaran, dibuat tunnel
(seperti lorong menggantung) pada lantai 2 dan 3 sepanjang 22 – 23 m mengarah
keluar bangunan, sebanyak 2 unit sehingga tangga kebakaran tidak didesain
sampai lantai dasar.
Pengkondisian udara menggunakan sistem central water,
cooled choller dengan kapasitas 3 x 280 TR. Pendistribusian udara per lantai,
untuk bagian dalam ruangan menggunakan Air Handing Unit (AHU), dan pada area
parameter dengan Fan Coil Unit (FCU).
Sumber air bersih berasal dari PDAM dan sebagai cadangan
disediakan deep well dengan kapasitas 150 liter / menit.
Dilengkapi pula sistem tata suara, saluran telepon,
sarana penanggulangan dan pencegahan terhadap bahaya kebakaran, serta MATV dan
CCTV. Gedung ini dikontrol dengan Building Automation System (BAS) yang
berfungsi untuk memonitor start dan stop.
4. Pertonas Twin Tower Malaysia
Petronas Twin Towers didirikan mulai tahun 1992 dan
berakhir enam tahun kemudian, tepatnya 1998 dengan menelan biaya ± 1.2 milyard US $. Bangunan ini terletak di Jalan Ampang, Kuala
Lumpur, Malaysia. Tinggi bangunan ini 452 meter dengan luas bangunan
keseluruhan 341.760 m2 yang terbagi atas 88 lantai dan 5 lantai
basement serta merupakan salah satu bangunan tertinggi di dunia.

Gambar 12: Petronas
Twin Towers Malaysia pada malam hari
Sumber : Internet,
situs Malaysia@.com
Gambaran umum dari bangunan ini adalah :
·
Tipe konstruksi : highrise building
·
Material(s) of Framework : steelconcrete
(beton bertulang)
·
Pondasi : mat
fondation
·
Fungsi : kantor sewa
·
Gaya arsitektur : post modern
·
Pemilik : Petronas Sdn. Bhd. Malaysia
Pada bagian
pondasi bangunan memiliki ketebalan 4,5 meter, terdiri dari 32.500 ton pondasi
rakit yang berisi ± 13.200 m3 beton dan didukung dengan 104 barrette
piles menancap ke dasar tanah yang berbatu. Jembatan skybridge yang menghubungkan
antara bangunan satu dan dua terbuat dari baja, terletak pada lantai 41 dan 42
dan dibuka untuk umum.
Gedung ini menggunakan sistem bangunan pintar
dengan pelayanan Integrated Service
Digital Network (ISDN) dengan tiga jaringan utama yang bekerja secara
terintegrasi. Pada sistem jaringan ini apabila sistem keseluruhan tidak
berfungsi, maka masing-masing sistem dapat bekerja seindiri-sendiri.
Sistem-sistem tersebut anatar lain :
ü Sistem kontrol
bangunan (building control system)
ü Sistem alarm
kenakaran (fire alarm system)
ü Sistem keamanan
bangunan (building security system)
Pada sistem keamanan bangunan menggunakan alarm monitoring system, card access, closed circuit television, voice
intercom, dan photo ID system.
Kedua bangunan
memiliki lift sebanyak 76 yang mencakup 29 double-decker
dengan kecepatan tinggi dan masing-masing double-decker elevator dapat membawa
26 orang.
5. Menara Telekom Malaysia
Menara Telekom adalah salah satu bangunan yang terkenal
di Malaysia, memiliki fungsi utama sebagai perkantoran sewa. Didesain oleh arsitek Hijjas Kasturi Associates dari
malaysia. Bangunan ini terletak di jalan Pantai Bahru, Kuala Lumpur, Malaysia.


Gambar 13
: Skygardens dan helipad yang
terdapat pada balkon dan atap bangunan
Sumber : Sistem Bangunan Pintar, edisi revisi, pustaka wira usaha
Bangunan ini memiliki ketinggian 310 meter yang terdiri atas 55 lantai. Struktur utama
dari bangunan ini adalah struktur rangka dan beton bertulang serta miliki gaya
post modern. Konsep bentuk bangunan mengadopsi dari pohon bambu yang menjulang
ke atas, menunjukkan identitas malaysia. Bentuk lengkun pada bangunan tercipta
akibat pengaruh henbusan angin yang cukup kuat sis bangunan tersebut. Pada
bagian dalam (sisi bangunan yang melengkung ke dalam) terdapat balkon yang
ditanami tumbuh-tumbuhan / pohon yang selain berfungsi sebagai penyaring debu,
penambah estetik pada bangunan juga memberikan kesan hijau pada pandangan mata
serta memberikan kesejukan penghawaan alami. Bagian atap menggunakan sunshading
yang akan membantu pengaturan pencahayaan alami sekaligus menghemat penggunaan
energi untuk penerangan / pencahayaan buatan. Bentuk lingkaran pada bagian atap
bangunan digunakan sebagai helipad.
Pada bangunan ini memiliki ruang pertunjukan teater serta
cinema yang menarik dan bagus, digunakan untuk kapasitas 2500 orang. Memiliki
hall yang luas yang digunakan sebagai ruang pameran dan terdapat sarana
rekreasi. Luas landscape merupakan
sisa dari luasan site yang tidak terbangun.
6. National Commerce Bank
Bangunan ini merupakan salah satu yang terkenal di Jeddah
dan merupakan salah satu bangunan yang tertinggi di Arab Saudi (1983 – 2000),
didirikan pada tahun 1983 oleh arsitek Skidmore, Owings &
Merrill LLP dengan tinggi 122 meter yang terdiri atas 27 lantai.

Gambar 14 : Bangunan
National Commerce Bank di Jeddah, Arab Saudi.
Sumber : Internet, situs
skyscrapers.com
Bangunan ini berfungsi sebagai bangunan kantor sewa atas
dasar kebutuhan akan kantor sewa di Jeddah. Bangunan kantor sewa ini terletak
di area plaza segitiga di dekat Laut Merah yang berbentuk triangular (geometri
segitiga) yang terdiri atas 27 lantai dan salah satu bagian bangunan juga
memiliki bentuk lingkaran. Bentuk dari lokasi
/ site yang ada serta
kondisi-kondisi climatic yang lokal menghasilkan keseluruhan yang kompleks.
Luas keseluruhan bangunan adalah 766.000 sf dengan bagian courtyard yang terkesan dipahat masuk ke bagian muka bangunan. Dua
dari courtyard yang ada mengarah pada selatan (old portion of
the city), sedangkan cortyard yang lain menghadap ke arah barat laut (lautan).
Jendela kantor yang ada, bila dibuka akan berhadapan langsung dengan courtyard
yang didesain secara arsitektur tradisional islam, sedangkan pada bagian
interior bangunan terdiri atas bahan material yang menarik, semacam batu pualam
dan granit hitam. Fasilitas ruang makan yang berwarna warni terkesan eksekutif
dan menarik dapat membangkitkan selera makan serta terdiri dari sekat-sekat
yang membuat desain lebih fleksibel.
7. Recruit Kawasaki Computer
Bangunan gedung ini didirikan pada akhir tahun 80,
tepatnya pada tahun 1987 yang terdiri atas 20 lantai dengan luas 47.398 m2.
Sebagian yang tinggal pada bangunan itu adalah pemiliknya (pengelola),
sedangkan yang sebagian adalah penyewanya. Bagi penyewa bangunan ini, selain
dapat menggunakan fasilitas network,
juga dapat menggunakan beberapa fasilitas, diantaranya :
ü Fasilitas
pemakaian ruang komputer.
ü Pelayanan yang
berintegrasi dengan tipe telepon yang baru.
ü Multiplex communication lines yang telah
disediakan, serta keamanan gedung yang memiliki proteksi yang sangat tinggi (communication lines and microwave lines from
two stations).
ü Intra LAN dari
beberapa pelayanan informasi
ü Struktur tahan
gempa dan dukungan daya listrik darurat dengan memasang masing-masing 2000 KVA
generator set.
ü Acces ke komputer back-up,
IBM 3090-200.
ü 50 ruangan untuk
penggunaan hotel dan sauna.
ü Bisa memilih
untuk penggunaan sistem pendinginan atau pemanasan dengan hasil yang optimal,
untuk lantai otomasi kantor, dengan cara membagi 16 bagian.
ü Toko buka 24 jam.
ü Penyewa tidak
perlu menyediakan switchboard
tersendiri.
ü Telepon antar
penyewa tidak dikenakan biaya (free of
change).
ü Dengan menyambung
ke personal computer dan word processor, jaringan lokal dapat
dipasang.
ü Introduksi dari
telpon multi fungsi memungkinkan untuk pelayanan yang lebih baik.
ü Informasi yang
lainnya bisa disediakan dengan memakai video
tape.
[3] Pengantar Arsitektur
[4] Yeang, Ken. Highrise
Elevator Cores, Building Departement, Juni 2002, hal B2.2, www.architectureWeek.com
[5] Yeang, Ken. Highrise
Elevator Cores, Building Departement, Juni 2002, hal B2.2, www.architectureWeek.com
[6] Concrete Structure, Oktober 2003, skyscrapers.com
[7] Teknologi inofatif
bangunan tinggi hemat energi. Jimmy Priatman. www.puslit.petra.ac.id
[8] Majalah konstruksi,
Desember 1996, hal. 63-64.
[9] Frick, Heinz dan Pujo L.
Setiawan, Ilmu Konstruksi Perlengkapan dan Utilitas Bangunan, 2002, hal. 78
<<<<<<<<<<KEMBALI KE BAB I
LANJUTAN BAB III>>>>>>>>>>>>
mohon dikirim ke email saya hijauk9@gmail.com
ReplyDeletehttps://www.youtube.com/channel/UCAVF0gTAiEy2HvN_652UhKQ
ReplyDeletesaya berminat .. alfianvalentino9@gmail.com
ReplyDeletesaya tertarik ... ngurah.madhusudana@gmail.com
ReplyDeleteMohon kerja samax silahkan subscrabe kami di youtube https://www.youtube.com/channel/UCAVF0gTAiEy2HvN_652UhKQ
DeleteSetalah terkonfirmasi. Kami akan mengirimkan file
boleh untuk referensi. iqrambossun21@gmail.com
ReplyDeleteBERMANFAAT BANGET GAN. MANTAP! SAYA JUGA MAU DONG FILE NYA -> imanysafira@gmail.com
ReplyDeletesangat bermanfaat, menambah refrensi untuk tugas kampus mohon di kirim ke email saya odiliaumboten@gmail.com
ReplyDeleteLUAR BIASA BERMANFAAT. Untuk menambah refrensi tugas kampus mohon di kirim ke email saya -> triaspamungkas378@gmail.com
ReplyDeleteSangat bermanfaat, untuk penelitian saya mohon dikirimkan ke email saya : trafalaw129@gmail.com........ terima kasih
ReplyDeletelexmoriarty0@gmail.com
ReplyDeleteMohon izin minta filenya min.. dellaimpnoor02@gmail.com
ReplyDeletemohon izin filenya min, saya butuh untuk melengkapi bab 2 dan memasukkan daftar pustaka. izzahmnwr@gmail.com
ReplyDeletemohon izin filenya min, sudah saya subscribe youtubenya https://www.youtube.com/channel/UCAVF0gTAiEy2HvN_652UhKQ
ReplyDeletesalimmm0299@gmail.com
mohon izin filenya min. Email : tamarisa.0900@gmail.com
ReplyDeletemohon izin mengirimkan filenya ke email shafira.qathrunnada@gmail.com
ReplyDelete